Merawat Makna dalam Kebersamaan: Halal Bihalal sebagai Ruang Belajar dan Menyalakan Harapan

Merawat Makna dalam Kebersamaan: Halal Bihalal sebagai Ruang Belajar dan Menyalakan Harapan
Oleh: Telly D.*)
Undangan Dr. Ir. Imran, S. Kom, M. T. Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, untuk menghadiri Halal Bihalal di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, itu datang ketika saya sedang berada di kabupaten lain. Jarak dan kesibukan sempat membuat saya ragu, datang atau cukup mengirimkan doa dan salam. Namun, dalam hati saya tahu, setiap undangan adalah bentuk penghormatan, dan menghargainya adalah bagian dari menjaga jalinan yang telah lama dirawat. Maka saya memilih berangkat kembali ke Makassar. Perjalanan itu bukan sekadar berpindah tempat, melainkan juga perjalanan batin menuju perjumpaan yang ternyata menyimpan makna lebih dalam dari yang saya bayangkan.
Setibanya di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, suasana hangat langsung menyambut. Senyum-senyum mengembang tanpa dibuat-buat, tangan-tangan saling menjabat erat, bahkan pelukan-pelukan singkat terasa begitu tulus. Di antara para pegawai, baik yang masih aktif maupun yang telah purna bakti terjalin kembali rasa kekeluargaan yang sempat terpisah oleh waktu dan rutinitas. Nama-nama dipanggil dengan akrab, tawa kecil pecah di sela-sela percakapan, dan dalam semua itu, terasa bahwa kebersamaan ini bukan sesuatu yang dibuat hari itu saja, melainkan telah tumbuh lama dan hanya menunggu untuk dihidupkan kembali.
Saya kemudian diajak duduk bersama dalam satu jamuan sederhana. Tidak ada yang berlebihan, tetapi justru di situlah letak keindahannya. Makanan yang tersaji terasa lebih bermakna karena dimakan bersama, dalam suasana saling menyapa dan berbagi cerita ringan. Saya teringat pesan Rasulullah bahwa siapa yang menjaga silaturahmi akan dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Dalam momen itu, saya merasakan bahwa yang dilapangkan bukan hanya rezeki dalam arti materi, tetapi juga keluasan hati, keluasan relasi, dan keluasan makna hidup.

Sambutan Kepala BBPMP Sulsel. Foto: Dokumen Pribadi
Namun, pertemuan itu ternyata tidak berhenti pada halal bihalal dalam pengertian yang umum. Setelah makan bersama, kami beralih ke dalam ruangan. Kursi-kursi ditata rapi, suasana menjadi lebih tenang, ada yang melalui online dan offline dan ketika satu per satu para pimpinan lama Drs. Harmanto, M. Si, Dr. H. Abd. Halim Muharram, M. Pd., Dr. Hj. Daswatia Astuty, M. Pd., Dr. H. Rusdi, M. Pd, dan Dr. Mardin, M.Pd mulai berbagi cerita. Di sinilah saya menyadari bahwa halal bihalal ini telah berkembang menjadi ruang refleksi dan pembelajaran. Cerita-cerita yang disampaikan bukan sekadar kenangan, melainkan pengalaman hidup yang ditempa oleh tanggung jawab, tantangan, bahkan kegagalan.
Para pimpinan itu tidak berbicara sebagai atasan, tetapi sebagai manusia yang pernah berjalan di jalan yang sama yang pernah ragu, pernah salah, namun terus belajar dan bertahan. Dari cerita mereka, saya menangkap satu benang merah: bahwa perjalanan karier dan pengabdian tidak pernah lepas dari nilai. Nilai-nilai seperti kejujuran, ketekunan, konsistensi, dan keberanian mengambil tanggung jawab menjadi fondasi yang membuat seseorang tetap tegak, bahkan ketika situasi tidak berpihak.

Sambutan Kabag Umum BBPMP Sulsel. Foto: Dokumen Pribadi
Di tengah rangkaian itu, ada pula momen yang sarat makna: Acara Halal Bihalal yg dirangkaikan dengan Acara Pisah Sambut Kabag Umum BBPMP dari Bapak Drs. A.Iskandar ke Bapak Dr. Rudi, S.Si., M.Si. Sebuah seremoni sederhana, namun menyimpan simbol yang kuat. Amanah berpindah tangan, tetapi nilai harus tetap tinggal. Seperti estafet yang diteruskan, bukan hanya tugas yang diserahkan, tetapi juga harapan, kepercayaan, dan tanggung jawab untuk menjaga arah organisasi tetap lurus. Saya teringat firman Allah bahwa manusia hanya memperoleh apa yang diusahakannya bahwa setiap amanah adalah ladang yang akan kita tuai hasilnya, cepat atau lambat.
Tanpa saya duga, saya pun diminta untuk berbagi. Tanpa persiapan, tanpa catatan. Dalam keterbatasan itu, saya hanya menyampaikan satu hal yang saya yakini: bahwa pekerjaan sekecil apa pun, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, bisa menjadi pintu masa depan yang tidak pernah kita rencanakan. Saya menceritakan bagaimana dahulu saya diberi tanggung jawab untuk membangun sistem manajemen mutu, sebuah tugas yang saat itu terasa berat dan menguras enegi. Namun dari sanalah tumbuh pemahaman yang kemudian menjadi dasar disertasi saya ketika menempuh pendidikan doktor, dan terus berkembang dalam perjalanan pengabdian karir saya di berbagai lembaga dan tempat.

Penulis Berbagi Pengalaman dengan Hadirin. Foto: Dokumen Pribadi
Saya belajar bahwa dalam manajemen, yang paling penting bukan hanya sistem yang tertulis, tetapi nilai yang menghidupinya. Sistem bisa disalin, tetapi nilai harus ditanam. Tanpa nilai, sistem hanya akan menjadi prosedur kosong. Sebaliknya, dengan nilai yang kuat, bahkan langkah kecil sekalipun dapat tumbuh menjadi perubahan besar. Rasulullah pernah bersabda bahwa Allah mencintai seseorang yang jika bekerja, ia menyempurnakannya. Itulah esensi dari kerja yang bernilai, kerja yang dilakukan dengan kesungguhan, kejujuran, dan tanggung jawab.
Dari pertemuan itu, saya merasakan kekuatan yang mengalir pelan namun dalam. Kekuatan itu tidak datang dari kata-kata yang hebat, tetapi dari ketulusan berbagi dan kesediaan untuk saling mendengarkan. Ada energi yang lahir dari kebersamaan, energi yang mengingatkan bahwa kita tidak berjalan sendiri. Bahwa ada jejak para pendahulu yang bisa kita pelajari, ada pengalaman yang bisa kita jadikan cermin, dan ada nilai yang bisa kita teruskan.
Menjaga kebersamaan seperti ini menjadi sangat penting, terutama dalam dunia kerja yang sering kali membuat orang terjebak dalam rutinitas dan target. Kebersamaan bukan hanya soal berkumpul, tetapi tentang saling menguatkan, saling mengingatkan, dan saling memotivasi. Dari kebersamaan itulah lahir semangat baru, perspektif baru, dan keberanian untuk melangkah lebih jauh.
Belajar dari pengalaman para pendahulu juga merupakan bentuk kerendahan hati. Kita menyadari bahwa apa yang kita jalani hari ini bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari perjalanan panjang yang telah dimulai oleh orang lain. Dengan belajar dari mereka, kita tidak hanya menghindari kesalahan yang sama, tetapi juga melanjutkan nilai-nilai baik yang telah mereka tanamkan.
Ketika acara itu berakhir, saya tidak hanya membawa pulang kenangan, tetapi juga keyakinan baru. Bahwa setiap langkah kecil yang kita jalani hari ini jika dilakukan dengan niat yang lurus dan kerja yang sungguh akan menemukan jalannya sendiri menuju masa depan. Seperti benih yang ditanam dalam diam, ia akan tumbuh pada waktunya, bahkan ketika kita tidak lagi mengingat kapan kita menanamnya.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari halal bihalal yang saya alami hari itu: bukan hanya tentang memaafkan masa lalu, tetapi tentang merawat kebersamaan di masa kini, dan menyiapkan harapan untuk masa depan bersama, dalam nilai, dan dalam langkah yang saling menguatkan.
Makassar, 9 April 2026
Telly D.*) adalah nama pena Dr. Daswatia Astuty, M.Pd, Ka. LPMP Sulbar 2109-2016, Ka. PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016-2020, Plh. PPPPTK SENBUD Jogyakarta 2018-2020, Pemerhati pendidikan, pegiat literasi, pelukis, dan penulis lebih 65 judul buku, buku terakhir adalah “Tinta yang Bersujud“ (2026).

April 15, 2026 at 4:58 pm
Brayden4312
https://shorturl.fm/vViFJ
April 10, 2026 at 3:46 am
Imran BBPMP
imran.bbpmpss@gmail.com Kenikmatan yang eksponensial. 1). Dapat bersilaturrahim, 2). Dapat diskusi kecil 3). Dapat cerita dan pengalaman menarik 4). Dapat nasehat dan wejangan 5). Dahaga Rindu terhapus. Alhamdulillah. Noted (Lakukan hal kecil dengan amanah dan komitmen, InsyaAllah hal besar akan menanti anda)