Xentuner dan Innophard: Cara Kecil Menyemangati Hidup

Xentuner dan Innophard: Cara Kecil Menyemangati Hidup
Oleh: Telly D.*)
Ada orang-orang yang tidak menyemangati dirinya dengan teriakan keras atau slogan bombastis, tetapi dengan cara-cara kecil yang nyaris lucu, nyaris kanak-kanak, namun justru sangat jujur. Dr. Much Khoiri adalah salah satunya, ketika ia masih mengendarai sebuah Xenia sederhana, ia menamainya Xentuner sebuah persilangan kata antara Xenia dan Fortuner. Di balik kelakar itu tersimpan sebuah harapan: suatu hari, ia ingin naik kelas, bukan sekadar pada mobil yang dikendarainya, tetapi pada hidup yang dijalaninya. Ia tidak ingin terjebak dalam rasa “cukup” yang membeku. Ia ingin terus bergerak.
Memberi nama pada mobil itu bukan sekadar permainan kata. Ia adalah doa yang diselipkan dalam benda. Setiap kali Dr. Much Khoiri menyebut Xentuner, ia sedang mengingatkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia jalani sekarang hanyalah sebuah tahap. Ia sedang berkata, tanpa harus berteriak: aku belum selesai dengan hidupku. Di dalam kehidupan yang sering membuat kita pasrah pada keadaan, ia memilih untuk menyimpan harapan dalam bentuk yang ringan dan ramah.
Kemudian, waktu berjalan. Xenia itu berganti menjadi Innova. Tapi harapannya tidak mengecil. Innova itu ia juluki Innophard, bayangan kecil dari Alphard yang lebih besar, lebih lapang, lebih mapan. Lagi-lagi, ini bukan tentang pamer atau keserakahan. Ini tentang menyemangati diri agar tidak berhenti bermimpi. Ia tahu, manusia yang berhenti membayangkan masa depan akan perlahan mengering di dalam.
Cerita tentang Xentuner dan Innophard sebenarnya adalah cerita tentang bagaimana seseorang merawat api di dadanya. Hidup, penuh dengan ketidakpastian. Syukurlah dia seorang dosen yang juga penulis. Namun, sebagai penulis, hari ini tulisan dimuat, besok bisa kehilangan ide. Hari ini merasa kuat, besok bisa terhempas oleh ragu. Dalam kondisi seperti itu, orang butuh sesuatu untuk dipegang, meski hanya sebuah nama lucu pada sebuah mobil.
Dr. Much Khoiri memilih kata-kata sebagai jangkar. Ia mengubah benda menjadi simbol, dan simbol menjadi pengingat. Setiap kali ia membuka pintu Xentuner atau menyalakan mesin Innophard, ia sedang membaca ulang doanya sendiri. Ia tidak menunggu dunia memberi validasi; ia menciptakan validasi itu dari dalam dirinya.
Inilah pentingnya menyemangati hidup. Semangat bukanlah teriakan di podium, melainkan bisikan yang setia di telinga sendiri. Semangat adalah kemampuan untuk berkata, “Aku masih ingin melangkah,” bahkan ketika kaki terasa berat. Dan orang-orang seperti Dr. Much Khoiri tahu, semangat itu harus dipelihara, seperti tanaman kecil di halaman rumah.
Apa saja yang ia lakukan untuk itu? Ia menulis, tentu saja. Menulis adalah cara lain untuk memberi nama pada harapan. Ia menuangkan keresahan, impian, dan doa ke dalam kata-kata. Ia membaca, berdiskusi, merenung. Ia memberi ruang bagi dirinya untuk tumbuh, bukan hanya secara materi, tetapi juga secara makna.
Ia juga membiasakan diri untuk melihat hidup sebagai proses, bukan garis akhir. Xenia tidak ia benci hanya karena belum Fortuner. Innova tidak ia remehkan hanya karena belum Alphard. Setiap tahap ia syukuri, sambil tetap menatap jauh ke depan. Inilah kunci keuletan: menerima hari ini tanpa menyerah pada hari ini.
Dalam cerita kecil tentang Xentuner dan Inofard, kita belajar bahwa menyemangati diri tidak harus mahal. Tidak perlu menunggu kaya, tidak perlu menunggu sempurna. Cukup dengan memberi ruang pada harapan, bahkan lewat hal sepele, hidup menjadi lebih hangat.
Dan barangkali, itulah yang membuat Dr. Much Khoiri terus melangkah: bukan mobil yang lebih mewah, tetapi jiwa yang selalu mau bergerak. Di jalan hidup yang panjang, ia tidak sekadar mengemudi. Ia sedang menuju sesuatu dengan senyum kecil, dengan doa yang diam-diam, dan dengan nama-nama yang menyimpan masa depan.
Makassar, 10 Januari 2026
______________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

January 11, 2026 at 8:07 am
Abdullah Makhrus
Xentuner adalah istilah yang kerap kita dengar ketika ngobrol bareng Abah Khoiri. Nama benda yang menyemangati hidup dan memupuk cita-cita.
Ulasan yang sangat menarik Bunda👍👍👍👍👍
http://www.abdullahmakhrus.com