Mukena di Tengah Riuh Reuni

Mukena di Tengah Riuh Reuni
Oleh: Telly D.*)
Reuni. Sekali kata itu disebut, serasa pintu kenangan langsung terbuka. Di baliknya ada wajah-wajah yang dulu kita kenal dengan cara yang sangat sederhana dari bangku kayu yang berderit, dari papan tulis yang penuh coretan, dari tawa yang meledak tanpa sebab. Reuni selalu punya daya tarik yang sulit ditolak, seolah ia memanggil pulang bagian diri kita yang tercecer di masa lalu. Karena itulah, entah reuni sekolah, reuni haji, reuni komunitas belajar, reuni komunitas olah raga, atau reuni kecil di sudut kota, saya hampir selalu datang. Ada sesuatu di sana yang membuat kita ingin kembali, meski hanya sebentar, untuk menyentuh waktu yang sudah lama berlalu.
Selama ini, saya datang sebagai peserta biasa. Seorang teman lama di antara teman-teman lama. Kami saling bertanya kabar, menertawakan rambut yang memutih, badan yang berubah, mengingat nama-nama yang nyaris hilang dari ingatan. Reuni selalu terasa seperti pesta kecil bagi kenangan: ada foto bersama, ada cerita-cerita yang dibesar-besarkan, ada kegembiraan yang sederhana. Tapi kali ini berbeda. Kali ini saya datang bukan hanya sebagai bagian dari sebuah angkatan atau lingkungan, melainkan sebagai seorang guru yang bertemu kembali dengan murid-muridnya.
Reuni yang dikemas dengan ungkapan Temu Kangen diselenggarakan oleh siswa-siswi SMP Athirah angkatan kedua, tahun 1988. Tiga puluh delapan tahun. Angka itu sendiri sudah terasa seperti jarak yang panjang dan hening. Dalam rentang waktu itu, anak-anak yang dulu saya kenal dengan seragam kebesaran kini telah menjadi orang dewasa dengan dunia mereka masing-masing: ada yang berambut perak, ada yang membawa cerita tentang anak-anaknya, ada yang memanggul beban hidup yang tidak pernah mereka bayangkan saat masih duduk di bangku kelas. Dan di tengah semua itu, mereka memanggil saya “guru” dengan nada yang sama seperti dulu hangat, hormat, dan penuh kenangan.
Suasana reuni itu tidak seperti pesta yang gaduh. Ia lebih mirip sebuah pertemuan keluarga besar yang lama terpisah. Ada tawa yang mengalir pelan, ada mata yang sesekali berkaca-kaca, ada pelukan yang seolah ingin menebus tahun-tahun yang hilang. Saya duduk di antara mereka, merasa sekaligus tua dan muda: tua karena rambut dan usia, muda karena kenangan yang tiba-tiba kembali segar. Saya melihat diri saya sendiri di mata mereka bukan hanya sebagai seseorang yang pernah mengajar, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup mereka.

Tali Asih “Mukena” Diserahkan oleh Ketua Penyelenggara. Foto: Dokumen Pribadi
Lalu datanglah momen yang paling menggetarkan hati. Mereka menyerahkan sebuah bingkisan. Bukan barang mewah, bukan sesuatu yang berkilau. Di dalamnya ada mukena dan sajadah. Alat untuk salat. Alat untuk bersujud. Hadiah itu sederhana, tetapi maknanya begitu dalam. Di hadapan saya yang sudah memasuki masa pensiun, yang langkahnya kini lebih pelan dan doanya lebih sering, mereka seolah berkata tanpa kata: “Guru, kami ingin engkau selalu dekat dengan Tuhan.”
Mukena itu terasa lembut di tangan saya. Putihnya seperti halaman baru, seperti niat yang bersih. Sajadah itu seperti jalan kecil yang selalu bisa saya gelar di mana pun, untuk kembali bersimpuh. Di usia yang semakin senja, ketika dunia mulai terasa lebih sunyi, hadiah itu menjadi pengingat bahwa hidup tidak hanya tentang apa yang sudah kita capai, tetapi tentang bagaimana kita berserah.
Saya menyadari sesuatu di sana. Selama puluhan tahun, mungkin saya merasa telah memberi ilmu, memberi nasihat, memberi perhatian. Tetapi di reuni itu, saya justru menerima. Menerima cinta, menerima penghargaan, menerima doa yang terbungkus dalam sehelai mukena dan selembar sajadah. Murid-murid saya, yang dulu saya tuntun dengan kapur dan papan tulis, kini menuntun saya dengan kehangatan dan ketulusan.
Reuni itu pun berakhir seperti semua pertemuan: dengan foto bersama dan salam perpisahan. Tetapi yang tertinggal di hati jauh lebih lama. Sebuah rasa bahwa hubungan antara guru dan murid tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah bentuk, dari ruang kelas ke ruang kenangan, dari pelajaran matematika ke pelajaran tentang kehidupan.
Di tengah riuh reuni, di antara tawa dan cerita, saya membawa pulang lebih dari sekadar bingkisan. Saya membawa pulang keyakinan bahwa apa yang kita tanam dengan tulus suatu hari akan kembali kepada kita, mungkin dalam bentuk yang tidak kita duga seperti mukena dan sajadah yang kini menunggu saya, setiap kali saya ingin bersujud dan mengucap syukur.
Makassar, 10 Januari 2026
______________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

Leave a Reply