Temu Kangen di Bawah Hujan Waktu

Temu Kangen di Bawah Hujan Waktu
Oleh: Telly D.*)
Reuni itu diberi nama Temu Kangen, sebuah judul yang sederhana tetapi menyimpan gema rindu yang panjang. Tiga puluh delapan tahun bukanlah jarak yang pendek. Ia bukan sekadar hitungan kalender, melainkan lapisan-lapisan hidup yang menumpuk: masa muda yang hilang, rambut yang memutih, wajah yang berubah, dan kenangan yang pelan-pelan memudar. Ketika undangan itu datang dari siswa-siswa SMP Islam Athirah angkatan kedua tahun 1988, hati saya langsung bergetar. Ada sesuatu yang memanggil dari jauh, dari masa ketika mereka masih remaja dan saya masih penuh tenaga berdiri di depan kelas.
Namun untuk datang ke sana, saya harus bernegosiasi lebih dulu dengan tubuh dan keadaan. Sore itu saya sedang flu berat. Kepala terasa berat, tenggorokan perih, dan badan seperti ingin menyerah. Rumah saya pula berada di jalur yang sibuk; siapa pun yang mengenalnya tahu bahwa malam Minggu antara pukul lima sampai tujuh adalah waktu yang nyaris mustahil untuk bergerak bebas. Seakan belum cukup, hujan turun deras, membuat jalan-jalan seperti sungai kecil yang berkilau. Saya duduk sejenak, membujuk diri sendiri, mengingat janji yang telah saya ucapkan. Di antara batuk dan rintik hujan, saya berkata pelan dalam hati: bukankah rindu juga perlu diperjuangkan?
Ketika akhirnya saya tiba, reuni itu sudah ramai. Ruangan penuh dengan suara yang saling menyapa, tawa yang meledak tiba-tiba, dan mata-mata yang mencari wajah lama di tubuh yang baru. Saya terpaku sejenak. Anak-anak yang dulu saya ajar, remaja dengan seragam kebesaran kini berdiri di hadapan saya sebagai orang dewasa. Tubuh mereka berubah, wajah mereka berubah, bahkan cara mereka tersenyum pun terasa lain. Saya jujur tidak mampu mengenali mereka satu per satu. Syukurlah, di dada mereka terpasang tulisan nama, seperti pengantar kecil dari masa lalu. Tanpa itu, mungkin saya hanya akan menebak-nebak, mencocokkan kenangan dengan realitas yang sudah jauh bergeser.

Kelompok Guru yang Sempat Hadir. Foto: Dokumen Pribadi
Hal yang lebih menggelikan, saya juga harus mengenali kembali teman-teman guru saya sendiri. Waktu rupanya tidak hanya mengajar murid untuk berubah, tetapi juga guru. Namun ada wajah-wajah yang seperti menolak usia. Pak Asnawi, kepala sekolah kami, masih tampak sama wibawanya tidak pudar. Ibu Mahira masih memelihara kecantikannya, seolah waktu bersikap lebih ramah padanya. Ibu Dharmawati, Ibu Nurhaedah Tarau, dan yang lain satu per satu muncul dalam ingatan saya, seperti potongan-potongan mozaik yang akhirnya kembali utuh.
Kami pun larut dalam percakapan yang tidak lagi tentang rencana mengajar atau rapor siswa, melainkan tentang anak dan cucu. Usia lanjut punya bahasanya sendiri: kami menghitung kebahagiaan dengan jumlah cucu. Di situlah cerita menjadi hangat dan lucu. Ada yang sudah memeluk banyak cucu, ada yang menyebutkan nama-nama dengan mata berbinar. Dan ketika giliran saya, saya tersenyum kecil. Saya hanya punya satu cucu, itu pun baru berusia tiga tahun. Tawa ringan pun mengalir, bukan sebagai ejekan, melainkan sebagai perayaan kecil atas takdir yang berbeda-beda.

Foto Bersama yang Menutup Kebersamaan Kami. Foto: Dokumen Pribadi
Di tengah semua itu, saya merasakan sesuatu yang lebih dalam. Reuni ini bukan sekadar temu kangen, melainkan temu syukur. Kami semua masih diberi umur untuk saling menyapa, masih diberi kesempatan untuk mengingat dan mengucap terima kasih. Dalam riuh percakapan dan tawa, ada keheningan batin yang berkata: betapa murah hati Tuhan kepada kami.
Malam itu, hujan di luar masih turun, tetapi di dalam hati saya terasa terang. Temu Kangen bukan hanya mengembalikan saya pada wajah-wajah lama, tetapi juga pada rasa bahwa hidup, dengan segala perubahan dan kelelahannya, tetap indah ketika diikat oleh kenangan, persahabatan, dan doa.
Makassar, 10 Januari 2026
______________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

January 11, 2026 at 9:25 am
Arfan Yunus
Luar biasa panitia dan sponsor, terima kasih. Alhamdulillah atas kebersamaan kita, sehat-sehat dan bahagia untuk kita semua
January 10, 2026 at 11:52 pm
Irdawanti kelas 3.1
Sehat2ki ibu Gurukuuu… kita pernah kasih les privatka di rumahta , kitami yang ajarkan saya sehingga saya lebih paham matematika…Guru panutankui takkan pernah kulupakan dan suamita. sending all my love to you.. Barakallah ibuuu 🤩😘🥰🤗