Soal Tersulit: Menghafal Nama

Soal Tersulit: Menghafal Nama
Oleh: Telly D.*)
Dulu saya guru matematika. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan bertahun-tahun suara kapur di papan tulis, deret angka yang tak pernah benar-benar berakhir, serta puluhan bahkan ratusan wajah yang pernah duduk rapi, gelisah, atau pura-pura paham di hadapan saya.
Kini, puluhan tahun kemudian, murid-murid angkatan 1988 mengundang saya dalam sebuah reuni dan silaturahmi. Undangan itu membuat hati saya hangat, namun juga diam-diam menyiapkan satu kegelisahan kecil yang jenaka: saya akan diminta mengenali wajah dan menyebut nama.
Saya sudah bisa membayangkan suasananya. Satu per satu mereka akan mendekat, senyum melebar, mata berbinar membawa masa lalu, lalu bertanya dengan nada penuh harap, “Bu, masih ingat saya?” Pertanyaan sederhana itu berubah menjadi soal cerita paling sulit yang pernah saya hadapi. Bukan karena tidak ada jawabannya, melainkan karena jawabannya terlalu banyak kemungkinan. Wajah-wajah itu terasa akrab, dekat, seolah pernah tinggal lama di ruang ingatan, tetapi nama-nama mereka bersembunyi rapi, entah di sudut mana.
Sebagai guru matematika, ingatan saya terbentuk seperti cara saya mengajar. Ia menyukai keteraturan, pola, dan penekanan. Nama murid yang melekat kuat biasanya adalah nama-nama yang ekstrem: yang terpandai dan yang paling bikin masalah. Yang terpandai hadir seperti angka istimewa prima, elegan, dan sulit dilupakan. Setiap kali saya menyebut namanya, selalu ada jawaban benar yang menenangkan hati. Sementara yang paling bikin masalah hadir seperti variabel liar dalam persamaan: tidak mau diam, sering menantang aturan, tetapi justru meninggalkan kesan mendalam. Keduanya mudah saya ingat, bahkan hingga kini.
Adapun murid-murid lain yang rajin, baik, patuh, dan tumbuh tanpa banyak riak justru sering tenggelam dalam ingatan kolektif bernama “kelas.” Bukan karena mereka tidak berarti, melainkan karena mereka berjalan lurus tanpa perlu banyak tanda. Mereka hadir seperti angka di tengah-tengah deret, penting untuk membentuk keseluruhan, tetapi jarang disorot satu per satu. Jika hari ini wajah mereka muncul kembali, ingatan saya sering berhenti pada perasaan: saya tahu pernah mengajar mereka, saya tahu pernah menyayangi mereka, tetapi nama itu enggan menampakkan diri.
Maka pada hari reuni nanti, besar kemungkinan saya akan mengandalkan jurus paling tua dalam dunia keguruan: senyum, pelukan, dan kalimat aman. Saya akan berkata, “Kamu tidak banyak berubah,” atau “Sekarang kelihatan lebih tenang,” atau “Sehat ya?” Kalimat-kalimat itu bukan kebohongan, melainkan cara saya menyambung masa lalu dan masa kini tanpa harus menyebut nama. Dalam hati, saya akan menghitung kemungkinan, mengaitkan wajah dengan bangku kelas, dengan buku catatan, dengan suara yang dulu pernah bertanya atau tertawa.
Kadang saya berpikir, mungkin beginilah adilnya ingatan seorang guru. Kami tidak diciptakan untuk menghafal nama, melainkan untuk mengingat proses. Yang melekat bukan siapa duduk di bangku nomor tiga, melainkan bagaimana mereka perlahan paham, bagaimana mata mereka berubah saat akhirnya mengerti, bagaimana mereka jatuh bangun menghadapi pelajaran dan kehidupan. Jika hari ini saya lupa nama, itu bukan tanda lupa cinta. Justru sebaliknya, cinta itu terlalu luas untuk disimpan dalam satu-dua kata.
Pada akhirnya, jika saya salah menyebut nama atau harus bertanya ulang, saya berharap mereka memakluminya dengan tawa. Anggap saja itu konsekuensi logis dari seorang guru matematika yang hidupnya terlalu lama akrab dengan angka. Saya mungkin tidak lulus ujian hafalan wajah, tetapi saya lulus dalam satu hal yang lebih penting: saya pernah menjadi guru mereka, dan mereka pernah menjadi bagian dari hidup saya. Itu rumus yang tidak pernah berubah, berapa pun tahun yang telah berlalu.
Makassar, 8 Januari 2026
______________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

Leave a Reply