TERBUAT DARI APA HATI MEREKA

Pentigraf
TERBUAT DARI APA HATI MEREKA
Oleh: Telly D.
Ia kembali ke desanya setelah banjir bandang menghancurkan segala yang dikenalnya. Lumpur mengering seperti kerak luka di dinding rumah, bau kayu busuk menyesaki napas, dan anak-anak hanya menatap kosong ke arah bukit yang kini tinggal tanah botak. Desa itu sunyi, seakan kehilangan keberanian untuk berharap. Ia berjalan perlahan, meraba sisa-sisa hidup yang masih menempel pada reruntuhan, mencoba menerima kenyataan bahwa arus tak hanya merenggut rumah tetapi juga masa depan yang dulu sederhana.
Di balai desa, warga menemukan kayu gelondongan besar hanyut bersama lumpur, tersangkut pada pilar yang hampir roboh. Potongannya terlalu rapi untuk dianggap kebetulan; seratnya terlalu muda untuk disebut tebang selektif. Bisik-bisik tentang proyek “pembangunan” yang dijual sebagai kemajuan kembali muncul. Para pejabat yang datang hanya mengangguk, mengatur sorotan kamera, lalu meninggalkan warga dengan sekop, air mata, dan pertanyaan yang tak pernah mereka jawab.
Malam itu, ia membersihkan permukaan kayu itu dan menemukan angka registrasi kehutanan yang pernah dihapus. Tanda kecil yang cukup untuk menelanjangi kebohongan besar. Dadanya mengencang, musibah ini bukan peristiwa alam semata, melainkan warisan pena yang pernah digerakkan tanpa nurani. Di tengah sunyi, ia bertanya terbuat dari apa hati mereka yang menandatangani hilangnya sebuah desa?
Makassar, 4 Desember 2025

Leave a Reply