BAYANGAN DIRI

Pentigraf
BAYANGAN DIRI
Oleh: Telly D.
Selama bertahun-tahun ia hidup sebagai raja tanpa mahkota, juragan yang membeli hutan demi kejayaan pribadi dan menutup jejak dengan dokumen palsu. Ia tahu banjir itu bukan sekadar bencana alam, melainkan gema dari kesalahan yang ia biarkan tumbuh. Namun ketika lumpur menelan desa, ia tetap meyakinkan diri bahwa semuanya “risiko pembangunan,” meski hatinya gelisah oleh bisikan yang tak mau diam.
Saat ia turun ke lokasi, pertahanannya hancur melihat seorang ibu menggendong anak tak bernapas, kakek yang memeluk sisa rumahnya, dan remaja memunguti buku sekolah yang terendam tanah. Tak ada yang menyalahkannya secara langsung, dan justru itu yang menembus paling dalam. Ketika seorang relawan menyodorkan sekop sambil berkata, “Semua tangan dibutuhkan,” ia merasakan sesuatu runtuh, bukan hanya harga diri, tetapi kebisuannya sendiri.
Sejak saat itu ia bekerja tanpa henti: menggali, mengangkat, menyiapkan tenda, memikul logistik. Tubuhnya yang biasa dimanja mulai memar, namun setiap rasa sakit terasa seperti duri yang tercabut dari jiwanya. Pada malam ketujuh, ketika duduk di tepi sungai yang pernah ia kotori, ia akhirnya memahami: masa lalu tak bisa dibalikkan, tetapi manusia selalu bisa memilih kembali. Di arus yang mulai jernih, ia melihat bayangannya, bukan sebagai perusak, tetapi sebagai seseorang yang akhirnya berani menebus diri.
Makassar, 3 Desember 2025

Leave a Reply