BAJU DASTER DAN TEH HANGAT

Pentigraf
BAJU DASTER DAN TEH HANGAT
Oleh: Telly D.
Mahasiswa itu datang dengan rasa gugup ke rumah dosen pembimbingnya, membawa naskah tesis yang belum rampung. Pintu terbuka perlahan, dan seorang perempuan dengan daster lusuh, rambut diikat seadanya, muncul dengan senyum lelah. Ia kemudian menyuguhkan teh hangat sambil berkata lembut, “Silakan menunggu sebentar dan menemaninya menunggu.” Suasana rumah yang sederhana dan senyap membuat mahasiswa merasa punya kuasa dan legitimasi lelaki.
Aroma teh belum dingin ketika ia mulai merayu dengan kata yang terasa cabul di udara. Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibirnya adalah campuran sok akrab dan sombong, “Mbak, kalau kerja di sini berat, saya bisa bantu banyak hal,” katanya sambil mencondongkan tubuh, nada suaranya licin seperti minyak urut. Perempuan itu kaget, namun tetap memilih diam, hanya menatapnya dengan sorot mata yang sulit dibaca. Diam wanita itu membuat mahasiswa semakin yakin pada imajinasinya sendiri, mulai lebih berani menatap perempuan itu dari sebelumnya.
Langkah berat terdengar, dosennya keluar dan berucap, “Terima kasih ya, Bu, sudah menemani mahasiswa saya,” dunia mahasiswa itu seketika runtuh. Kata “Bu” menghantam kepalanya seperti batu yang jatuh dari langit. Wajah mahasiswa itu memucat, seluruh tubuhnya seperti ambruk ke dalam sumur gelap, ia berharap bumi menariknya untuk menghilang dari dunia.
Makassar, 4 Desember 2025

Leave a Reply