TERLALU LAMA

Pentigraf
TERLALU LAMA
Oleh: Telly D.
Di rak paling sunyi sebuah perpustakaan kecil, tersimpan sebuah mushaf Al-Qur’an yang setiap pagi dibersihkan oleh seorang penjaga. Ia selalu menyapanya dengan lembut, “Aku datang membacamu lagi hari ini.” Setiap halaman yang ia buka menghadirkan ketenangan yang menambatkan langkahnya, membuat hari-hari yang berat terasa lebih ringan. Mushaf itu seakan menjadi tempat ia menitipkan rasa syukur dan letih, rasa yang tak pernah ia ungkapkan pada siapa pun, tetapi selalu ia temukan kembali di antara ayat-ayatnya.
Namun di samping mushaf itu tertempel catatan kecil dari pengurus lama: Jangan dibawa pulang. Penjaga itu mematuhinya sepenuh hati. Kadang ia berbisik, “Aku cukup di sini saja.” Ia membaca beberapa ayat, menutup mushaf itu dengan hormat, lalu kembali bekerja. Begitulah hari-harinya, singkat, sederhana, tetapi penuh arti. Ia tidak pernah meminta lebih; ia hanya ingin tinggal dekat, menjaga tanpa melampaui batas. Mushaf itu bukan miliknya, tetapi menjadi rumah sunyi yang ia datangi tanpa jeda.
Suatu pagi, ketika ia datang lebih lambat dari biasanya, ia membuka mushaf itu dan huruf-hurufnya tampak mengabur. “Kenapa tidak jelas…” gumamnya. Ia mengusap mata, namun kaburnya tetap. Barulah ia merasakan kejutan getir itu: penglihatannya mulai melemah. Bukan mushaf yang berubah, tetapi dirinya yang terlalu lama membaca dari jauh, terlalu lama menjaga tanpa menyadari bahwa waktu perlahan mengambil bagian paling berharga darinya.
Makassar, 23 November 2025

December 2, 2025 at 2:19 pm
Adriana1261
https://shorturl.fm/1S3iQ