BURUNG YANG TAK SEMPAT KEMBALI

Pentigraf
BURUNG YANG TAK SEMPAT KEMBALI
Oleh: Telly D.
Di sudut taman kota, seekor burung kecil selalu hinggap di dahan yang sama setiap pagi. Seorang penjaga taman kerap menghampirinya sambil berucap pelan, “Aku hanya ingin melihatmu terbang hari ini.” Burung itu tak pernah pergi jauh; ia berkicau singkat, menunduk ringan, seolah mengakui kehadiran manusia yang tak pernah mencoba mendekat lebih dari perlu. Hari-hari berlalu, dan mereka terbiasa saling menatap dari jarak aman tanpa sentuhan, tanpa suara selain kicau pendek cukup untuk membuat pagi terasa lebih penuh makna.
Dekat pohon itu berdiri papan kecil: Dilarang memberi makan burung liar. Penjaga itu mematuhinya. Kadang ia berbisik, “Maaf, aku hanya bisa menemanimu dari sini.” Ia duduk di bangku dekat batang pohon, mendengarkan irama kicau yang selalu sama, lalu bangkit saat waktunya bekerja. Burung itu tetap kembali setiap pagi, seolah memahami batas yang tak boleh mereka lewati. Kedekatan itu tumbuh tanpa janji, seperti kebiasaan yang pelan-pelan menjadi kebutuhan.
Hingga suatu pagi, dahan itu kosong. Penjaga menunggu, memanggil lirih, “Kau di mana?” tapi hanya angin yang menjawab. Di tanah ia melihat sehelai bulu basah sisa hujan. Baru ketika ia menengadah, barulah ia mengerti: pohon tempat burung itu selalu kembali telah ditebang semalam. Yang hilang bukan burungnya, tetapi ruang kecil tempat pertemuan mereka hidup.
Makassar, 23 November 2025

November 28, 2025 at 6:02 pm
Darryl3572
https://shorturl.fm/apdzJ
November 26, 2025 at 8:10 am
Ian3670
https://shorturl.fm/nvC6b