JANJI AYAH

entigraf
JANJI AYAH
Oleh: Telly D.
Ayah selalu berjanji akan menemaninya bersepeda setiap sore. Janji itu sederhana saja, tapi berarti besar bagi seorang anak. Namun hampir setiap hari, alasan baru muncul: rapat yang molor, tubuh yang sudah terlalu lelah, tugas kantor yang tiba-tiba datang. Anak itu menunggu sampai matahari benar-benar hilang di balik rumah tetangga, sambil menahan kecewa yang tak pernah ia ucapkan.
Sedikit demi sedikit, ia belajar bahwa janji bisa dilupakan tanpa suara. Hatinya mengeras oleh sore-sore yang gagal, sementara sepeda kecilnya berkarat perlahan, menunggu sesuatu yang tak pernah tiba. Dan sebelum janji itu sempat ditepati, ayahnya meninggal. Tidak pernah ada satu sore pun di mana mereka mengayuh pedal bersama. Kekecewaan itu ia bawa bertahun-tahun, menjadi bagian kecil yang tak pernah sembuh benar.
Hingga pada suatu hari, saat ia membereskan tas kerja peninggalan ayahnya, ia menemukan sekantong surat lama: permohonan cuti yang ditolak, keberatan lembur yang disia-siakan, protes yang tak pernah dijawab. Semua surat itu mengisyaratkan satu hal yang dulu tak ia mengerti: ayahnya sudah berusaha keras, sangat keras, untuk menepati janji itu. Dunia saja yang tidak memberi peluang. Dan untuk pertama kalinya, ia menangis, ia akhirnya melihat betapa besar cinta ayahnya, meski cintanya tak pernah sempat sampai di atas pedal sepeda yang menunggu sejak lama.
Makassar, 23 November 2025

Leave a Reply