Mengapa Kita Terikat pada Satu Jenis Makanan

Mengapa Kita Terikat pada Satu Jenis Makanan
Oleh: Telly D.
Setiap orang memiliki satu jenis makanan yang tidak hanya mengisi perut, tetapi juga ruang-ruang halus dalam ingatan. Ada yang tak bisa jauh dari semangkuk bakso, ada yang memuja aroma sate yang terbakar bara, ada pula yang melekat pada hidangan rumahan yang tampak sederhana tetapi sarat makna. Pertanyaan mengapa seseorang begitu tertarik pada satu makanan tertentu hingga ingin mengulangnya setiap ada kesempatan, ternyata menyimpan kombinasi rumit antara biologi, psikologi, kebiasaan, dan sejarah pribadi. Makanan bukan sekadar perpaduan bumbu ia adalah pengalaman yang bertemu dengan tubuh, emosi, dan ingatan.
Secara biologis, makanan yang “ngeklik” dengan selera seseorang bekerja seperti tombol kecil yang mengaktifkan pusat kenikmatan dalam otak. Kandungan gurih, manis, atau lemak memicu pelepasan dopamin zat kimia yang menciptakan rasa senang, puas, bahkan penghiburan. Inilah sebabnya hidangan tertentu terasa seperti magnet: begitu disantap, tubuh mengingat sensasinya, dan otak memanggil-manggil untuk diulang. Namun alasan biologis hanyalah permukaan. Di bawahnya, ada lapisan emosional dan kultural yang jauh lebih kuat, membuat satu mangkuk makanan mampu bertahan sebagai pusat keinginan selama bertahun-tahun.
Saya teringat pada guru saya, Abah Khoiri, yang sangat terikat dengan sayur lodeh. Bagi Abah, lodeh bukan hanya makanan; itu adalah rumah, perjalanan waktu, dan jembatan menuju masa kecilnya. Setiap kali ada kesempatan makan lodeh, ia tidak pernah menolak. Lodeh favoritnya pedas, bersantan, kombinasi tahu, tempe, kacang panjang, kacang tolo, serta cabai hijau. Ia pernah berkata bahwa lidahnya tumbuh bersama lodeh; bahwa setiap suapan membawa kembali suara-suara masa silam: suara ibu di dapur, uap yang mengembun di tutup panci, suasana kamar kost dan aroma santan yang mendidih perlahan. Dalam kisahnya, saya belajar bahwa makanan dapat menyimpan semacam arsip pribadi.

Beberapa Jenis Makanan dan Kue Kesukaan. Foto: Dokumen Pribadi
Lodeh adalah sayur yang melekat dengan lidah saya sejak kecil, kata Abah Khoiri menjelaskan. Namun seiring saya berumah tangga, rasa lodeh di rumah berubah khususnya tingkat kepedasannya. Keluarga saya tidak suka pedas, sehingga lodeh yang saya masak pun menjadi lebih jinak. Pedasnya tidak lagi meledak seperti dulu, tetapi anehnya, meski rasa berubah, kehadiran lodeh tetap memberikan sensasi yang sama: rasa pulang. Makanan rupanya punya cara bekerja yang unik. Ia bisa berubah, tetapi kenangannya tetap utuh, dan kenangan itu cukup untuk membuat kita mencarinya kembali.

Beberapa Jenis Kue Kesukaan. Foto: Dokumen Pribadi
Contoh lain datang dari hal sederhana di rumah: suami saya yang anak Pulau Buton sangat terikat pada ikan bakar yang diperas jeruk nipis. Baginya, perpaduan gurih ikan dan segarnya jeruk adalah bentuk paling jujur dari kenikmatan. Tidak rumit, tidak berlebihan, tetapi mengena. Sementara saya sendiri memiliki kesukaan yang berbeda: ayam goreng Sulawesi. Mungkin orang lain akan mengatakan itu hanya ayam goreng, tetapi bagi saya, ia memuat potongan waktu yang tidak dapat diganti karena dulu, itulah makanan yang selalu saya santap bersama ibu. Restorannya pun masih saya ingat: bangku kayunya, aroma khas minyak panas, sambal yang selalu habis sebelum ayam dingin. Ayam goreng itu bukan makanan favorit saya semata; itu adalah favorit ibu saya, dan melalui makanan itu, saya seperti bisa kembali merasakan kehangatan yang dulu pernah begitu dekat.

Beberapa Jenis Makanan Kesukaan. Foto: Dokumen Pribadi
Dari pengalaman-pengalaman kecil itulah terlihat bahwa keterikatan pada makanan tidak berdiri sendiri. Ia dibangun oleh situasi emosional: siapa yang bersama kita ketika pertama kali mencicipi, pada momen apa, pada suasana apa, dan apa yang ingin kita rayakan atau kita sembuhkan. Orang yang memilih makanan tertentu berulang kali, sebenarnya sedang mengulangi perasaan tertentu. Ketika Abah Khoiri kembali pada lodeh pedas bersantan, ia sedang kembali pada masa kecilnya yang penuh gurau. Ketika saya makan ayam goreng Sulawesi, saya sedang kembali pada meja makan bersama ibu, sebuah kenangan yang tidak tergantikan oleh apa pun. Ketika suami mencari ikan bakar dengan jeruk nipis, mungkin ia sedang merayakan kesederhanaan yang menenangkan.
Pada akhirnya, makanan favorit adalah kombinasi antara tubuh yang mengenali kenikmatan, ingatan yang mencari pulang, dan hati yang ingin menemukan kembali sesuatu yang pernah membuatnya hangat. Kita mengulanginya bukan karena kita lapar, tetapi karena ada bagian diri yang ingin disapa kembali. Makanan hanyalah pintu; yang kita cari sesungguhnya adalah rasa yang pernah membuat hidup terasa utuh.
Makassar, 15 November 2025

November 29, 2025 at 12:16 pm
Micah3114
https://shorturl.fm/K9t02