BUNGALOW DAN BUNGA BANK

Pentigraf
BUNGALOW DAN BUNGA BANK
Oleh: Telly D.
Setiap awal bulan, pria itu selalu menuju sebuah bungalow mungil di pinggir kota, tempat yang sepi namun hangat, berdiri di antara rimbun pohon dan jarak yang ingin mereka lupakan. Di sana, seorang wanita menantinya dengan teh yang selalu mengepul. “Kita sebentar saja,” ujarnya tiap kali, seperti mengingatkan batas tipis yang mereka pasang sendiri. Hubungan itu tumbuh layaknya bunga bank: diam-diam bertambah, tak pernah diumumkan, tak boleh disentuh, namun membuat dada mereka berdebar tanpa nama.
Dalam bungalow itu, waktu berjalan pelan. Mereka mengobrol secukupnya, lebih sering tenggelam dalam diam yang justru paling jujur. Setiap senyum kecil terasa seperti cicilan emosi yang tidak pernah lunas. Pernah ia berucap lirih, “Andai hati bisa dibekukan seperti saldo,” dan wanita itu menunduk, memahami betapa rapuh bara yang mereka jaga. Cinta mereka bukan api, hanya bara yang tak boleh padam, namun juga tak boleh menyala terang.
Suatu pagi, pria itu datang dan menemukan bungalow itu kosong. Tak ada teh, tak ada bayangan wanita itu, hanya ruangan bersih seperti halaman yang dihapus paksa. Ia memanggil, tetapi hanya daun yang menjawab. Di ambang pintu, selembar kertas menggantung: Bungalow Dijual. Akses Ditutup. Saat itu ia mengerti: cinta mereka tidak berakhir, ia hanya kehilangan satu-satunya tempat untuk hidup.
Makassar, 23 November 2025

Leave a Reply