JANJI TAK SEMPAT TIBA

Pentigraf
JANJI TAK SEMPAT TIBA
Oleh: Telly D.
Setiap sore, seorang anak duduk di meja makan sambil menunggu ibunya pulang bekerja. Mereka jarang punya banyak waktu, tetapi ada kebiasaan kecil yang selalu dijaga: pesan singkat dari sang ibu, “Tunggu sebentar, Nak. Ibu hampir sampai.” Anak itu tak pernah membalas panjang hanya ikon jempol atau senyum, namun setiap pesan terasa seperti genggaman hangat dari kejauhan. Hari-hari mereka berjalan dalam ritme yang sama: jarak tetap, perhatian sederhana, rindu yang tidak pernah diucapkan tetapi selalu hadir.
Kadang ibu menambahkan, “Jangan tidur dulu, Ibu mau dengar cerita harimu.” Anak itu menuliskan beberapa baris pendek tentang sekolah, tugas, langit sore yang berubah warna setiap hari. Meski lelah, ibunya selalu membaca dan membalas singkat. Kebiasaan itu menjadi semacam selimut halus di antara mereka: tipis, sederhana, namun menjaga hangat. Cinta yang tumbuh bukan dari pertemuan panjang, melainkan dari pesan-pesan kecil yang tiba tanpa suara tetapi membuat hari terasa lebih ringan.
Hingga suatu malam, anak itu menunggu, tetapi pesan itu tak muncul. Ia mengetik pelan, “Bu, sudah di jalan?” Tak ada balasan. Tak ada centang dua. Ketika ia menemukan ponsel ibunya tertinggal di meja kerja, di sana ada satu pesan tak terkirim: “Tunggu sebentar, Nak. Ibu hampir sampai.” Saat itu ia merasakan getirnya, yang tak sempat tiba bukan pesannya, melainkan ibunya sendiri.
Makassar, 23 November 2025

Leave a Reply