RUMPUT LIAR

Pentigraf
RUMPUT LIAR
Oleh: Telly D.
Mereka tak pernah bertemu di tempat yang sama dua kali. Setiap perjumpaan berpindah seperti bayangan yang menghindari cahaya. Ia sering berbisik, “Kita hanya singgah,” dan mereka mengangguk seolah percaya. Percakapan dibuat pendek, tawa diringankan, jarak dijaga seakan satu langkah keliru dapat meruntuhkan hidup yang sudah mereka tata di dunia lain. Namun, dari tatapan-tatapan singkat, tumbuh sesuatu yang liar sekaligus rapuh, seperti rumput kecil yang muncul di celah trotoar: tak diminta, tapi bertahan.
Mereka tahu hubungan itu tak boleh diberi nama. Dunia menagih peran mereka sebagai pasangan bagi orang lain. Meski begitu, kadang satu pesan singkat muncul: “Kau baik-baik saja?” dan hari tiba-tiba terasa lebih mudah dijalani. Mereka tak pernah berpelukan atau menggenggam tangan, tetapi diam-diam menjadi tempat pulang yang tak pernah benar-benar mereka datangi. Mereka hidup di ruang samar, ruang yang hanya mereka pahami, meski seharusnya tak pernah mereka miliki.
Hingga suatu sore, ia menunggu di tempat biasa, menatap kursi yang tetap kosong. Pesannya, “Kamu di mana?” tak kunjung terbaca. Malamnya, berita kecil muncul: kecelakaan ringan di jalan kota. Bukan lukanya yang menyentak, melainkan satu kalimat di akhir laporan: korban meminta istrinya dihubungi. Saat itu ia mengerti, yang runtuh bukan hubungan mereka, tetapi ilusi bahwa dirinya pernah memiliki tempat di hidup siapa pun.
Makassar, 23 November 2025

November 25, 2025 at 2:29 pm
Daniella632
https://shorturl.fm/0huUz