Nasi Campur Makassar di Sorong: Menyantap Cita Rasa Nusantara

Nasi Campur Makassar di Sorong: Menyantap Cita Rasa Nusantara
Oleh: Telly D.
Perjalanan saya ke Sorong, Papua Barat, membawa pengalaman yang tak hanya melelahkan tubuh, tetapi juga menggetarkan rasa. Di kota pelabuhan yang ramai dengan lalu-lalang kapal dan aroma garam laut itu, saya menemukan sesuatu yang tak saya duga: sepiring nasi campur dengan nama yang sederhana Nasi Campur Makassar. Nama itu membuat saya berhenti di depan warung kecil di pinggir jalan, diapit toko bahan bangunan dan penjual ikan asap.
Saya memesan sepiring nasi campur itu tanpa banyak berpikir, hanya karena rasa ingin tahu. Ketika piring itu datang, mata saya langsung tertarik oleh warnanya: nasi putih mengepulkan uap hangat, di atasnya tersusun lauk yang beragam. Ada potongan daging berwarna pekat seperti rawon Jawa Timur, ada serundeng yang mengingatkan saya pada dapur-dapur di rumah orang Sunda, ada paru rica merah menyala khas Manado, sebutir telur bumbu Padang, dan tak ketinggalan sambal goreng yang menggoda dengan aroma bawang dan cabai yang digoreng garing.
Saya menyuap sedikit daging hitam itu. Rasanya gurih, dalam, dengan sedikit rasa kluwek yang menebarkan aroma khas rawon. Lalu saya mencoba serundengnya manis gurih, seperti kenangan masa kecil di meja makan ibu. Setelah itu paru rica yang pedasnya tajam, menggigit lidah, tapi meninggalkan hangat di dada. Setiap suapan seperti membawa saya berjalan dari satu pulau ke pulau lain, dari Jawa ke Sulawesi, dari Sumatra ke Manado.
Saya menatap kembali nama warung itu: Nasi Campur Makassar. Anehnya, cita rasa yang saya temukan justru bukan hanya dari Makassar, melainkan dari seluruh penjuru Nusantara. “Kenapa disebut Makassar, ya?” saya bertanya pada pemilik warung, seorang bapak berusia sekitar lima puluh tahun yang tersenyum ramah.

Sepiring Nasi Campur di Sorong. Foto: Dokumen Pribadi
“Karena saya orang Makassar, Bu,” jawabnya. Tapi lauk-lauknya dari mana saja? “Ada yang saya pelajari waktu kerja di Surabaya, ada juga dari istri saya yang Tionghoa/Makassar. Kalau paru rica itu resep teman saya dari Manado.”
Saya tersenyum. “Berarti ini nasi campur Nusantara, Pak.”
Ia tertawa kecil. “Bisa dibilang begitu. Tapi tetap saya kasih nama Makassar, biar orang tahu asalnya dari saya.”
Jawaban itu sederhana, tapi akrab. Saya pun terdiam sejenak, memandangi sepiring nasi campur di depan saya. Dalam piring itu, seolah terkumpul potongan rasa dari berbagai penjuru negeri semuanya berpadu tanpa menyingkirkan yang lain. Ada yang manis, ada yang pedas, ada yang gurih, tapi semuanya membentuk harmoni.
Saya teringat pada perjalanan saya ke berbagai daerah lain di Indonesia. Di Padang, rendang dimasak berjam-jam hingga bumbunya meresap sempurna, menjadi lambang kesabaran dan ketekunan. Di Manado, rica-rica menjadi simbol keberanian dalam rasa. Di Jawa, sambal dan serundeng berbicara tentang keseimbangan dan kelembutan. Semua itu adalah bahasa cinta yang disampaikan lewat rasa.
Mungkin begitulah cara Indonesia berbicara kepada kita: lewat makanan. Lewat sepiring nasi campur di warung sederhana di Sorong ini, saya diajak untuk mengenal lagi negeri saya sendiri. Bahwa kita tidak hanya terikat oleh peta dan batas administratif, tetapi juga oleh rasa yang menyatukan.
Saya menulis pesan singkat kepada guru saya, Abah, melalui WhatsApp.
“Bah, saya baru makan nasi campur Makassar di Sorong. Rasanya campuran Jawa, Padang, Manado, tapi namanya Makassar. Aneh tapi indah. Seperti Indonesia sendiri.” Saya kirim dilengkapi foto
Beberapa menit kemudian, Abah membalas:
“Mengundang selera makan pagi.”

Menikmati Sepiring Nasi Campur di Sorong. Foto: Dokumen Pribadi
Begitulah, saya jadi memahami Indonesia itu nasi campur besar. Tiap daerah bawa rasa sendiri, tapi kalau disatukan jadi nikmat. Jangan pernah bosan mencicipi, karena setiap rasa itu bisa jadi cerita.
Saya terdiam membaca pesan itu, benar. Setiap rasa adalah cerita. Dan setiap cerita adalah cara bangsa ini memperkenalkan dirinya. Kita mengenal satu sama lain lewat piring-piring kecil yang dihidangkan dengan tangan yang berbeda, bumbu yang khas, tapi dengan niat yang sama: memberi rasa terbaik.
Di tengah hiruk pikuk Sorong, di antara aroma laut dan bunyi kapal, saya merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kenyang. Ada kebanggaan yang tumbuh perlahan. Bahwa di negeri ini, rasa bukan sekadar urusan lidah ia adalah jembatan untuk mengenal, untuk menghargai, dan untuk mencintai.
Setelah menghabiskan nasi campur itu, saya menatap piring yang kini kosong. Rasanya seperti menatap peta Indonesia yang baru saja saya jelajahi lewat rasa. Dari Sumatra hingga Papua, semua ada di sana. Saya merasa beruntung lahir di negeri yang kaya bumbu dan cerita. Negeri yang membuat saya selalu rindu untuk pulang setiap kali menyuap nasi, setiap kali mencium aroma dapur, setiap kali mencicipi rasa yang baru tapi entah kenapa terasa akrab.
Saya jadi ingat pesan Abah setiap saya berjalan:
“Tulislah tentang perjalanan itu, Mbakyu. Tentang apa yang Mbakyu lihat dan rasa, bagaimana semua itu membuat Mbakyu mengenal bangsa ini. Kadang cinta tanah air tidak lahir dari bendera, tapi dari sepiring nasi yang Mbakyu nikmati dengan syukur.”
Saya pun tersenyum, pesan itu terasa seperti bumbu terakhir yang melengkapi rasa hari ini. Maka saya pun menulis tentang nasi campur yang ternyata bukan hanya tentang Makassar, tapi tentang Indonesia yang utuh, yang kaya, yang bersatu dalam keberagaman rasa. Karena sejatinya, mencintai negeri ini bisa dimulai dari hal yang paling sederhana: dari sepiring nasi yang menyatukan cita rasa Nusantara.
Sorong, 4 November 2025

November 6, 2025 at 1:08 am
Ngainun Naim
Membaca tulisan tentang kuliner membuat saya jadi ikut lapar. Padahal baru sarapan.
November 5, 2025 at 12:11 pm
Much. Khoiri
Tulisan perjalanan (kuliner) yang gurih dan sedap. Mantaps