PENA YANG MEMBATALKAN PALU

Pentigraf
PENA YANG MEMBATALKAN PALU
Oleh: Telly D.
Di ruang persidangan yang dingin dan bergema, hakim mengetukkan palu: empat setengah tahun untuk lelaki yang pernah menjabat dan menandatangani izin tanpa restu. Tak ada sorak, tak ada tangis. Hanya sunyi yang menetes di pelipis keadilan, seperti embun yang jatuh pelan di atas nisan hukum yang lelah menanti ketegasan.
Namun, dua minggu berlalu. Sebuah pena bergerak, menuliskan satu keputusan yang tak pernah lahir dari ruang sidang: abolisi. Di hari ketika rakyat masih mencoba memahami isi putusan hakim, negara menjawab dengan penghapusan, menyelipkannya dalam alasan “rekonsiliasi” dan “kepentingan nasional,” seolah luka hukum bisa dijahit dengan janji damai politik. Rakyat terdiam, karena bingung kepada siapa lagi harus percaya.
Ia yang dijatuhi, kini berjalan bebas. Ia yang menyaksikan, hanya bisa menggenggam berita dan bertanya dalam hati: “Jika palu bisa dibatalkan oleh pena, maka apa arti suara kebenaran yang sudah diketok?” Dan dari kejauhan, keadilan tampak duduk sendirian menatap langit, bertanya: “Masihkah aku panglima, atau hanya boneka yang dipoles undang-undang?”
Makassar, Agustus 2025

Leave a Reply