PENGANTAR JENAZAH TERAKHIR

Pentigraf
PENGANTAR JENAZAH TERAKHIR
Oleh: Telly D.
Di kampung itu, tak ada pemakaman tanpa dirinya. Pria tua bertubuh kurus, berjubah lusuh, tak pernah menolak mengangkat keranda. Tak meminta bayaran, tak pernah banyak bicara. Ia datang lebih dulu, dan pulang paling akhir. Tugasnya tak tertulis, tapi semua orang mengandalkannya seperti azan di Masjid yang tak pernah absen.
Ada satu kebiasaannya yang tak dimengerti: sebelum jenazah diturunkan, ia selalu memegang tangan si mayit sejenak, diam, lalu mengangguk pelan. Orang mengira itu doa. Ada pula yang bilang ia bisa merasakan dosa yang belum sempat diampuni. Anak-anak takut padanya, tapi orang dewasa memujanya. Ia dianggap lelaki suci penjaga pintu peristirahatan terakhir.
Hingga suatu hari, cucunya menemukan buku kecil dalam laci meja. Isinya daftar nama panjang dengan catatan singkat di tiap nama, menolak lamaran saya tahun 1971, mengusir saya dari rumah dinas, dan memanggil saya gila di depan umum. Sang cucu bertanya dan si kakek hanya menjawab tenang, “Aku cuma ingin mereka tahu kalau akhirnya…, aku yang memegang tangan mereka duluan.”
Makassar, Agustus 2025

Leave a Reply