PEMBAWA PELURU

Pentigraf
PEMBAWA PELURU
Oleh: Telly D.
Namanya Marsan, belum genap sepuluh tahun. Tubuh kurus, wajah polos, tapi langkah tak pernah goyah saat menggendong tas goni berisi peluru. Ia menyusup lewat kebun singkong, pura-pura mencari kayu bakar. Tak ada yang curiga—hanya bocah kampung yang belum tahu dunia. Padahal, ia paham: satu langkah salah bisa mengantarnya ke liang tak bernama.
Ibunya selalu menangis setiap kali ia berangkat. Tapi Marsan tak mau berhenti. “Karena aku kecil, mungkin pelurunya nggak berat,” ujarnya. Di punggungnya ia pikul bukan hanya amunisi, tapi kepercayaan para pejuang di lereng bukit. Pernah ia tertangkap, dipukul, lalu dilepas karena dianggap gila—siapa yang percaya bocah kurus mengangkut peluru perang?
Marsan tak sempat tumbuh dewasa. Suatu hari, ia tak kembali. Di dasar sungai, hanya tersisa tas goni dan satu peluru yang tak pernah sampai. Sejak itu, setiap anak yang berani menyeberangi sungai untuk sekolah dipanggil “Marsan baru”—sebab perjuangan diwariskan dalam senyap, bukan dalam gelar.
Makassar, Agustus 2025

Leave a Reply