PERI PEMILIK WARUNG KOPI

Pentigraf
PERI PEMILIK WARUNG KOPI
Oleh: Telly D.
Warung itu kecil, nyaris tak terlihat jika bukan karena wangi kopinya yang menyelinap di sela-sela bau ikan asin dan genangan pasar. Dindingnya dari papan bekas peti mayat, mejanya dari pintu rumah lama yang entah siapa pemiliknya. Pemiliknya janda tua berkerudung lusuh, selalu menyeduhkan secangkir hangat untuk lelaki-lelaki yang datang dengan wajah gagal: pemabuk tobat, tukang parkir tanpa lahan, bahkan guru yang didepak karena menolak suap. Orang menyebutnya “Peri Pasar.” Kopinya tak menyembuhkan, tapi membuat luka-luka jadi pasrah.
Ia tak pernah minta bayaran, hanya menatap setiap mata yang datang seolah membaca kitab dosa yang tak jadi dibakar. Desas-desus menyebutkan ia tengah menebus karma: suaminya mati karena menggugurkan janin, anak lelakinya tenggelam karena tak direstui, entah mana yang benar. Hari-hari terus berjalan, dan kopi-kopi itu tetap hangat seperti maaf yang tidak diucapkan.
Sampai suatu hari, media massa meliput kisahnya. Tayangan nasional menyebutnya pahlawan nurani. Video wajahnya viral di media sosial: Perempuan Tangguh Penjaga Moral Pasar. Donasi pun mengalir. Wartawan datang bergiliran. Tapi sehari sebelum penganugerahan dari pemerintah, seorang mantan narapidana membongkar semuanya: “Dia bendahara koperasi yang menggondol uang simpanan, lalu menghilang dua puluh lima tahun.” Semua tercekat diam, kopi itu mengembalikan harga diri yang dulu dia curi.
Makassar, Agustus 2025

Leave a Reply