KOTAK AMAL

Pentigraf
KOTAK AMAL
Oleh: Telly D.
Ramadan merangkai takdir seperti senja melarutkan jingga ke dalam lautan malam. Bagi Fadil, berkahnya tak sekadar janji surga, tetapi hadir dalam wujud Myrna yang setiap hari bersisian dengannya di masjid. Dalam tarawih, salat subuh, dan tadarus, mata mereka bersua dalam diam, isyarat halus yang lebih tajam dari kata-kata. Hasrat yang bertumbuh berkobar dalam doa akhirnya tak tertahankan. Fadil menumpahkannya dalam surat, setiap kata dipilihnya dengan hati-hati, membingkai perasaan lama bersemayam. Baru saja amplop itu tertutup, azan berkumandang. Bergegas, ia menyambar sarung, bersiap ke masjid, dan di depan pintu, ibunya menitipkan amplop sumbangan untuk kotak amal.
Malam itu, segala sesuatu berjalan semestinya. Fadil melangkah dengan khusyuk, meletakkan amplop dalam kotak amal, lalu larut dalam salat. Namun, takdir kadang bermain dengan cara yang jenaka. Setelah jamaah bubar, panitia mulai menghitung isi kotak amal. Mata Fadil masih terpejam dalam doa saat suara seorang panitia membaca keras-keras, “Myrna, seperti bulan yang menyejukkan malam, kau adalah doa yang kusimpan di antara sujud dan harapan…” Degupan jantungnya berloncatan tak karuan, wajahnya merona seperti fajar yang malu-malu.
Sekejap masjid sunyi, lalu meledaklah tawa, menggemuruh di antara tiang-tiang dan saf-saf. Myrna menunduk, menyembunyikan senyum yang mengembang, sementara Fadil berharap bisa lenyap seperti asap dupa yang perlahan menguap. “Astaghfirullah, amplopnya tertukar…” gumamnya lirih, tapi justru itu yang membuat tawa semakin pecah.
Makassar, 4 Maret 2025

Leave a Reply