BAJU KEDUA

Pentigraf
BAJU KEDUA
Oleh: Telly D.
Setiap pagi perempuan itu kembali ke sudut tenda, membawa sehelai baju yang sama. Ia mencucinya dengan air dingin, menjemurnya di tali plastik, lalu menunggu sampai kering. Orang-orang mengira itu caranya bertahan menjaga ingatan, merawat harapan. Aku pun percaya begitu. Di sela suara pengungsian, gerakannya tampak seperti doa yang tak putus.
Siang hari aku duduk di dekatnya. Ia bercerita tentang anaknya dengan nada ringan, menyebut rencana sekolah, sepatu baru yang belum sempat dipakai. “Aku ingin bajunya tetap wangi,” katanya, “biar dia gampang mengenalinya saat pulang.” Kata pulang itu diucapkannya pelan, tapi mantap, seolah masih punya tempat untuk kembali.
Menjelang sore, aku melihatnya membuka tas plastik lain. Di dalamnya ada beberapa baju serupa, semuanya bersih dan terlipat rapi. “Yang ini untuk hari ini,” katanya sambil tersenyum. Saat itu aku mengerti: ia bukan menunggu anaknya pulang, ia sedang menyiapkan pakaian untuk hari pemakaman yang belum tahu kapan.
Makassar, 14 Desember 2025

Leave a Reply