DOA YANG TERTUKAR

Pentigraf
DOA YANG TERTUKAR
Oleh: Telly D.
Menjelang magrib, tenda pengungsian selalu menjadi lebih sunyi. Lampu-lampu kecil menyala, dan seorang lelaki duduk bersila di tengah kami. Ia menyebut satu nama dengan suara yang dijaga tetap utuh, seolah nama itu rapuh dan bisa pecah jika diucapkan terlalu keras. Kami mengamini. Suara kami bertaut, mengalir seperti arus kecil yang ingin menemukan muara.
Siang harinya, di pos data, aku membaca nama yang sama. Tertulis rapi, tanpa getar, di antara deretan korban yang telah ditemukan. Kertas itu tak bersuara, tak tahu bagaimana cara menunggu malam. Aku melipatnya perlahan, menaruhnya kembali, dan membiarkan siang berjalan seperti biasa dengan antrean, pembagian air, dan langkah-langkah lelah yang tak pernah berhenti.
Malam datang lagi. Lelaki itu kembali berdoa. Namanya kembali disebut, kali ini lebih lama, lebih dalam. Kami mengamini dengan kepala tertunduk. Di pengungsian, aku mengerti: ada doa yang tak salah alamat, hanya tiba ketika kenyataan sudah lebih dulu sampai.
Makassar, 13 Desember 2025

Leave a Reply