RAHASIA DI MOROWALI

Pentigraf
RAHASIA DI MOROWALI
Oleh: Telly D.
Aku menggenggam tangan anakku di jalan tanah berdebu Morowali. Angin laut membawa aroma asin, debu menari di kaki kami, dan di depan terbentang hanggar berkilau jet pribadi. Pagar tinggi menahan setiap langkah, tapi tak ada penjaga, tak ada lambang resmi hanya kesunyian megah yang menakutkan. Anakku menatapku, mata bersinar, penuh pertanyaan yang belum terucap.
“Ayah… pesawat-pesawat ini milik siapa? Kenapa bisa ada bandara tanpa pengawasan?” Lidahku kelu. Dunia yang tampak indah di depan mata ini megah, tak terjamah, tapi ilegal; keindahannya menipu hati, memaksa penjelasan yang harus menjaga rasa aman seorang anak. Aku menarik napas panjang, membiarkan ia menatap logam mengkilap itu, sementara hatiku menegang kemegahan itu simbol ketidakadilan.
Matahari condong ke barat, dan aku tersenyum tipis, lirih berkata, “Nak, kadang hal yang indah di depan mata bukan untuk semua orang, dan bukan selalu benar.” Tapi getirnya menyesakkan. Kemegahan yang seharusnya membangkitkan harapan justru menjadi simbol kekuasaan segelintir orang yang menginjak aturan. Anak ini akan tumbuh melihat dunia di mana yang salah tampak benar, dan aku… aku hanya bisa menatap, takut bukan untuk diriku, tapi untuk masa depan bangsaku.
Makassar, 27 November 2025

Leave a Reply