HANYA SEBAGAI SAKSI

Pentigraf
HANYA SEBAGAI SAKSI
Oleh: Telly D.
Di kampung kecil Morowali, aku mengajarkan murid-muridku tentang cinta tanah air dan kedaulatan, tentang bagaimana bangsa berdiri di atas aturan yang dijaga bersama. Namun setiap kali pulang sekolah dan melihat jet pribadi mendarat di bandara kecil kami, kata-kataku terasa kopong. Dari balik pagar tinggi, warga asing turun dengan langkah pasti, diiringi para petugas berseragam dari negeri kami sendiri. Dalam sekejap, buku pelajaran yang kubawa seperti halaman yang robek tertiup angin.
“Pak, kenapa mereka tidak diperiksa? Kenapa bukan orang sini yang kerja di sana?” Aku tersenyum agar mereka tidak melihat pahitku, tidak semua yang tertulis di buku berjalan di dunia. Aku tahu, tiap pesawat yang datang tanpa catatan berarti ada kekayaan yang mengalir pergi bukan untuk memperbaiki sekolah kami yang bocor, bukan untuk gaji guru yang tertunda.
Suatu hari, setelah melihat lagi jet asing lepas landas tanpa izin, aku menulis di papan tulis: Cintailah negerimu, bahkan saat ia tidak sanggup melindungi dirinya sendiri. Anak-anak menatapku bingung. Mungkin nanti mereka akan mengerti: getir terbesar seorang guru adalah tetap mengajar cinta pada tanah yang perlahan terasa bukan miliknya lagi sementara dia hanya berdiri sebagai saksi.
Makassar, 27 November 2025

Leave a Reply