JEJAK DI BALIK ARUS

Pentigraf
JEJAK DI BALIK ARUS
Oleh: Telly D.
Banjir itu bukan sekadar bencana; bagi ayah, ia terasa seperti tamparan dari langit yang mengungkap kejahatan di tanah sendiri. Dari bukit yang terkupas habis, air membawa kayu-kayu gelondongan yang seharusnya tidak pernah ditebang. Arus liar itu menghantam rumah ayah, memporak-porandakan tembok, memecah pintu, dan menyeret seluruh kepunyaannya. Ia berdiri di tengah puing, napasnya berat oleh amarah yang tak menemukan ujung.
Keesokan harinya, ia menyusuri sungai yang penuh lumpur dan serpihan pohon. Di antara batang-batang raksasa itu, ia menemukan cap perusahaan yang selama ini mengklaim “pembangunan.” Ayah menendang salah satu gelondongan itu, seolah menendang wajah orang-orang yang duduk nyaman di kantor berpendingin, sambil menghitung keuntungan dari hancurnya hutan kampungnya. “Mereka yang ciptakan banjir ini,” gumamnya, suaranya serak tapi penuh bara. “Mereka yang merampas masa depan anak-anakku.”
Saat relawan mulai berdatangan, ayah berdiri di depan mereka sambil menggenggam tanah basah dari kebunnya. Matanya merah bukan hanya karena sedih, tetapi karena tekad. “Aku bukan ahli hukum,” katanya pelan namun tegas, “tapi aku tahu siapa yang harus bertanggung jawab.” Di tengah keruntuhan, ia tidak ingin sekadar membangun kembali rumahnya, ia ingin membangun keberanian untuk melawan kerakusan yang selama ini berlindung di balik izin, tanda tangan, dan janji palsu.
Makassar, 28 November 2025

Leave a Reply