TIDAK ADA KATA MAAF

Pentigraf
TIDAK ADA KATA MAAF
Oleh: Telly D.
Banjir itu datang tanpa memberi ruang bernapas. Rumah ayah roboh perlahan, seperti tubuh tua yang menyerah pada luka yang terlalu lama dipendam, sementara arus membawa gelondongan kayu yang menampar mata dengan satu kebenaran: hutan telah dicabik habis. Ayah berdiri di tepi sungai, tubuhnya kaku, wajahnya tanpa suara. Tidak ada teriakan, tidak ada makian hanya diam yang beku, diam yang lebih panas daripada amarah meledak sekalipun.
Ia menyusuri kebunnya yang hancur, langkahnya berat oleh lumpur. Air menetes dari lumur di celananya, tapi sepasang matanya tetap kering. Ia mengangkat satu gelondongan yang tersangkut, menelusuri bekas potongan rapi buatan mesin, jejak manusia, bukan badai. Tangannya mengepal, namun bibirnya tetap tertutup rapat. Ada kemarahan yang berputar di dadanya, menekan dari dalam seperti gemuruh yang tak diberi izin keluar. Ia menghela napas panjang, seakan melepaskan bukan udara, melainkan beban yang tak punya nama.
Sementara tetangga mulai mengeluh dan memaki, ayah hanya duduk di atas batu besar yang tersisa. Ia menatap arus yang mulai surut dengan pandangan dingin yang membuat suasana sepi menjadi terasa lebih bising. Diamnya berbicara tentang hutan yang hilang, tanah yang dijual, dan sungai yang dipaksa menanggung dosa. Dan ketika akhirnya ia berdiri, tanpa satu kata pun, semua orang tahu: ada seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak lagi memaafkan.
Makassar, 28 November 2025

Leave a Reply