TERSERET ARUS

Pentigraf
TERSERET ARUS
Oleh: Telly D.
Gemuruh asing membangunkanku. Tanah bergetar, udara dipenuhi bau basah dan serpihan halus. Hujan turun seolah memburu dunia, dan sebelum sempat memahami apa yang terjadi, arus dari lereng menerjang tubuhku. Dari rembesan menjadi gelombang lumpur, semuanya berlangsung begitu cepat. Aku tercerabut, menghantam batu-batu besar, lalu terseret menuju sungai yang berubah liar, membawa apa saja tanpa ampun.
Dalam hanyutku, kulihat rumah-rumah retak, manusia berlarian, sebagian memanggil nama orang yang hilang, sebagian hanya menatap kosong benda-benda asing yang melintas. Akulah salah satunya terputar di antara potongan jembatan, pagar, dan atap yang pecah. Kadang tersangkut, lalu terlepas lagi, terbawa lebih jauh dari tempat asal. Dari tepian kudengar suara heran: benda-benda besar itu berasal dari mana?
Ketika arus melemah, aku terhenti di tepi desa. Seorang anak menyentuh permukaanku yang keras dan dingin, menatapku dengan rasa ingin tahu. Saat itu aku sadar betapa berubah rupaku tanpa daun, tanpa akar, hanya tubuh panjang yang tak mengenal rumah. Mereka menyebutku gelondongan kayu. Namun sebelum malam itu menumpasku, aku memiliki nama yang lebih sunyi dan sederhana: aku pernah menjadi pohon.
Makassar, 27 November 2025

Leave a Reply