HARAPAN YANG TERSISA

Pentigraf
HARAPAN YANG TERSISA
Oleh: Telly D.
Air baru saja surut ketika ayah menggendong anaknya melewati sisa rumah yang roboh dan gelondongan-gelondongan kayu raksasa yang tersangkut seperti monster yang baru saja mengamuk, dan dalam kepedihan yang menyesakkan ia hanya mampu berbisik, “Beginilah dunia ketika manusia lupa batasnya.” Puing berserakan di mana-mana, dan ayah menahan air mata yang mengambang di sudut matanya, mencoba tetap tegar di depan anaknya yang gemetar memandang kehancuran itu.
Di kebunnya yang kini menjelma ladang lumpur dan patahan pohon, ayah memungut sepotong batang dengan bekas tebasan yang terlalu rapi untuk disebut karya badai, sementara anaknya duduk membatu di belakangnya, dan dengan suara yang retak ia berkata, “Ini bukan buatan angin, tapi tangan serakah yang menurunkan bencana ini kepada kita.” Akar-akar yang terekspos seperti luka terbuka membuat ayah merasakan kemarahan yang tak bisa ia muntahkan, sehingga hanya sunyi yang menggantung di udara.
Di tepi sungai yang masih keruh, ayah memeluk anaknya dengan tangan yang masih bergetar, mencoba menutupkan sebagian dunia yang hancur itu dari pandangan mata kecil yang belum pantas mengenal kehilangan, dan dengan suara yang nyaris pecah ia mengucapkan, “Kau harus tumbuh menjadi seseorang yang memperbaiki luka yang ditinggalkan hari ini.” Dalam pelukan itu, ia berharap masa depan setidaknya menyisakan ruang bagi harapan meski hari ini penuh reruntuhan.
Makassar, 01 Desember 2025

Leave a Reply