JEJAK YANG MENUNTUT

Pentigraf
JEJAK YANG MENUNTUT
Oleh: Telly D.
Aku berdiri di atas bukit yang gundul, memandang bekas tebanganku yang seperti luka menganga, namun dengan tenang aku membenarkan diriku sendiri sambil berkata, “Kerusakan ini bukan salahku; aku hanya mengikuti perintah atasan.” Meski batang-batang raksasa tergeletak seperti mayat yang belum dikuburkan, aku tetap merasa tak tersentuh, seolah tangan yang memegang gergaji itu bukan tanganku, melainkan milik seseorang yang tak pernah lahir dalam diriku.
Ketika banjir menghancurkan desa di kaki bukit dan gelondongan yang kutebang menghantam rumah-rumah, aku dengan mudah menggeser seluruh kesalahan ke arah cuaca ekstrem, sambil membatin dingin, “Biarlah orang-orang menyalahkan hujan; alam memang tak pernah butuh pembelaan.” Bahkan ketika mayat-mayat diangkat dari sungai dan keluarga menangis, aku hanya mengangkat bahu, menegaskan pada diriku bahwa aku hanyalah roda kecil yang bergerak sesuai putaran mesin yang lebih besar.
Namun harapanku untuk terus bersih dari rasa bersalah runtuh ketika aku melihat satu jenazah kecil dibawa melewati jalan berlumpur itu dan seseorang berkata lirih, “Dia ditemukan terjepit di antara kayu-kayu yang ditebang dari bukit ini.” Kata bukit ini menusuk lebih keras daripada gergaji mana pun, membuat dadaku serasa meledak, dan tiba-tiba aku sadar bahwa tak ada tumpukan uang atau alasan yang cukup tebal untuk menutup kenyataan bahwa bencana itu bukan sekadar terjadi dan aku turut menciptakannya.
Makassar, 01 Desember 2025

Leave a Reply