SEPEDA KECIL DI GANG SEMPIT

Pentigraf
SEPEDA KECIL DI GANG SEMPIT
Oleh:Telly D.
Setiap pagi, sebelum ayam selesai berkokok, bocah itu sudah mengayuh sepedanya keliling gang sempit. Bel sepeda plastiknya berdenting nyaring, membawa serta senyum lebar dan suara tawanya yang melenting. Ia kadang menyapa, kadang hanya melaju sambil bernyanyi, membuntuti ibunya yang menjajakan sayur keliling kampung. Badannya kecil, sepedanya kebesaran, tapi semangatnya seperti mentari yang tak pernah telat datang.
Warga percaya, kehadiran bocah itu membawa rezeki. Warung yang dilewatinya ramai, dagangan yang dilihatnya laku keras. Bahkan beberapa tetangga meyakini kalau anak itu membawa keberuntungan. Ibunya pun disukai warga: murah senyum, tak pernah menawar utang, dan sayurnya selalu segar. Di antara kerasnya hidup kota, mereka seperti oase kecil yang menyejukkan.
Hingga suatu pagi, warung sepi dikejutkan dengan bunyi sepatu laras, Ibunya diborgol. Dalam kangkung dan sawi segar ditemukan plastik kecil berisi sabu. Bocah itu menangis saat ibunya dibawa pergi, memeluk sepeda lusuhnya erat-erat. “Tapi… kami cuma jual sayur, Bu… aku yang pilihin tomatnya sendiri.”
Makassar, Agustus 2025

Leave a Reply