BURUNG YANG TIDAK BERKICAU

Pentigraf
BURUNG YANG TIDAK BERKICAU
Oleh: Telly D.
Ia pengrajin sangkar paling disegani di kota kecil itu. Ukiran sangkarnya rapi, halus, kuat, angin pun enggan kabur dari dalamnya. Para kolektor burung dari luar kota datang silih berganti, memesan dengan harga tinggi. Tapi rumahnya sepi. Tak ada kicau, tak ada burung. Sangkar-sangkar indah itu hanya tergantung kosong di beranda, seperti menunggu sesuatu yang tak pernah kembali.
Orang-orang bertanya-tanya. Ada yang bilang ia benci suara, ada yang menyebut ia sedang menebus karma pada alam. Ia hanya tersenyum jika ditanya. Ia bekerja dari pagi hingga malam, membuat sangkar-sangkar baru yang tak pernah ia isi. Kadang duduk di bangku kayu memandangi pintu sangkar yang terbuka, seperti seseorang yang menulis puisi yang kehilangan kata.
Hingga suatu malam, tetangga mendapati ia tertidur sambil memeluk sangkar kecil. Nampak pulas tidurnya, tak ada orang yang pernah tahu kepedihan tergelap hati yang selalu dia keluhkan: “Aku terus membuat rumah, meski kau memilih terbang ke sangkar yang lebih mahal.”
Makassar, Agustus 2025

Leave a Reply