KURSI KOSONG DI BALAI DESA

Pentigraf
KURSI KOSONG DI BALAI DESA
Oleh: Telly D.
Di ruang rapat balai desa, ada satu kursi yang tak pernah diduduki. Kursi kayu tua berlapis kain merah pudar itu dibiarkan di pojok, tak diangkat, tak dibersihkan, hanya disapu seadanya jika ada tamu penting. Dalam setiap musyawarah, kepala desa selalu membuka acara dengan menatap kursi itu sejenak seolah menunggu sesuatu yang tak datang. Warga pun terbiasa diam, tak pernah bertanya kenapa kursi itu tetap ada.
Konon, itu adalah kursi milik pendiri desa yang wafat mendadak sebelum rapat pemekaran wilayah. Sejak itu, kursi itu dianggap suci. Siapa pun yang mencoba duduk, katanya, akan mengalami kemalangan. Seorang sekdes yang pernah mencobanya jatuh sakit seminggu kemudian. Ada juga yang bilang suara ketukan terdengar tiap malam dari kursi itu, seperti seseorang ingin berbicara. Warga percaya: kursi itu adalah simbol penuntun moral.
Hingga suatu pagi, kursi itu disita oleh aparat kejaksaan. Ternyata di balik sandarannya terdapat slot rahasia tempat menyembunyikan dokumen tanah dan kwitansi transfer gelap. Kepala desa hanya tertunduk, lalu berbisik lirih, “Itu kursi yang paling setia menampung dosa saya.”
Makassar, Agustus 2025

Leave a Reply