BAYANGAN DI LADANG GARAM

Pentigraf
BAYANGAN DI LADANG GARAM
Oleh: Telly D.
Setiap sore, saat matahari perlahan tumpah ke ladang garam, Rafi bocah delapan tahun sering melihat sosok hitam berdiri jauh di tengah hamparan putih itu. Ia pikir itu roh ayahnya yang hilang ditelan laut saat badai besar tahun lalu. Ibunya melarangnya bicara tentang hal-hal gaib, tapi Rafi menyimpan rahasianya sendiri: ia merasa dilindungi, bahkan kadang merasa diajak bermain oleh bayangan itu. Di sekolah, ia menggambar sosok itu dengan crayon hitam dan diberi nilai nol oleh gurunya.
Orang-orang kampung mulai ikut mempercayai. Konon, arwah yang meninggal tanpa jasad pulang akan berdiam di tempat terakhir ia dicari. Dan ladang garam itu adalah tempat orang-orang dulu menunggu jasad ayah Rafi. Kini, tiap sore, orang dewasa pun enggan melintas saat bayangan itu muncul. Ibu Rafi menggembok pintu sebelum magrib. Tapi Rafi justru semakin penasaran. Ia mulai membawa sesajen kecil; permen, nasi sisa, bahkan mainan plastik diletakkan di dekat tumpukan garam, berharap bisa mengundang bayangan itu bicara.
Suatu malam, polisi menangkap seorang pria tua kurus di balik karung. Ia buronan kasus pencurian besar dua dekade lalu, dan selama ini bertahan hidup dari sesajen bocah yang mengira sedang memberi makan arwah. Ia menunduk dan berbisik, “Lucu ya… yang aku curi dulu tanah keluarga ini.”
Makassar, Agustus 2025

Leave a Reply