Membuat Tuhan Tersenyum
Membuat Tuhan Tersenyum
Oleh: Telly D.
Suatu pagi, saya menerima pesan yang sederhana, tetapi anehnya lama tinggal dalam ingatan. Pesan itu datang dari guru penulis saya, Much Khoiri. Ia hanya menulis singkat bahwa ia sudah berhasil membantu beberapa koleganya menyelesaikan sesuatu. Lalu di akhir kalimat ia menambahkan satu ungkapan yang membuat saya berhenti sejenak membaca: “Mudah-mudahan ini membuat-Nya tersenyum.”
Kalimat itu sederhana, tetapi seperti embun yang menempel pada daun kecil, memantulkan cahaya yang besar. Pagi itu saya bertanya dalam hati: benarkah manusia bisa membuat Tuhan tersenyum? Bukankah Dia Maha Sempurna, tak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya?
Namun para ulama menjelaskan bahwa bahasa agama sering memakai bahasa manusia agar kita mengerti. Dalam tradisi Islam, misalnya, ada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Allah tertawa kepada dua orang yang saling membunuh lalu keduanya masuk surga.” Hadis ini tercatat dalam karya Imam Bukhari dan Imam Muslim. Para ulama seperti Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa “tawa” atau “senyum” itu bukan dalam arti biologis, melainkan kiasan bagi keridaan dan kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya.
Jadi ketika seseorang berkata ingin membuat Tuhan tersenyum, sebenarnya ia sedang mengucapkan niat yang lebih dalam: ia ingin hidup dalam keridaan Tuhan.
Akibat percakapan pagi itu, saya mulai melihat banyak peristiwa kecil sebelumnya dengan cara yang berbeda.
Suatu hari di pasar saya pernah melihat seorang bapak tua memungut uang receh yang jatuh dari kantong seorang ibu tanpa disadari. Ia memanggil ibu itu dari jauh dan mengembalikannya. Nilainya mungkin tak sampai harga secangkir teh. Tidak ada orang yang memuji. Tidak ada kamera yang merekam. Namun dalam hati saya terlintas satu kalimat: mungkin saat itu Tuhan sedang tersenyum.
Karena kejujuran kecil sering lebih berat daripada sumpah besar.
Di lain waktu saya pernah juga melihat dua anak kecil membagi sepotong roti yang hanya satu. Mereka memakannya bergantian sambil tertawa. Anak-anak itu tidak tahu teori etika, tidak membaca kitab-kitab filsafat, tetapi di sana saya melihat sesuatu yang jernih: kebaikan yang tidak dibuat-buat.
Barangkali Tuhan tersenyum juga.
Dalam Al-Qur’an, Tuhan menyebut bahwa Dia mencintai orang-orang yang berbuat ihsan berbuat baik dengan sepenuh hati. Ulama besar seperti Al-Ghazali menjelaskan bahwa ihsan adalah keadaan ketika manusia hidup seolah-olah ia melihat Tuhan; dan jika tidak mampu, ia yakin Tuhan melihatnya.
Ketika kesadaran itu hadir, hidup menjadi lebih jujur.
Kita tidak lagi melakukan kebaikan untuk dipuji orang. Kita melakukannya karena sadar ada langit yang menyaksikan.
Saya berpikir: membuat Tuhan tersenyum tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Tidak selalu tentang pengorbanan heroik atau karya monumental. cukup dengan menahan satu kalimat yang bisa melukai orang lain.
Cukup dengan memaafkan ketika kita punya alasan kuat untuk membalas.
Cukup dengan berhenti sejenak mendengarkan seseorang yang sedang membawa kesedihan.
Hal-hal kecil seperti itu sering tidak tercatat dalam sejarah. Tidak ada berita tentangnya. Tetapi mungkin justru di situlah Tuhan menaruh perhatian-Nya.
Mengapa manusia perlu hidup dengan niat membuat Tuhan tersenyum?
Karena niat itu membuat hidup menjadi lebih jernih.
Jika tujuan hidup hanya pujian manusia, hati akan selalu gelisah. Pujian itu rapuh; hari ini ada, besok hilang. Tetapi jika tujuan hidup adalah keridaan Tuhan, bahkan perbuatan kecil menjadi bercahaya.
Senyum Tuhan jika kita memakai bahasa simbol itu sebenarnya adalah cara agama mengingatkan bahwa hidup ini bukan sekadar rangkaian rutinitas. Ia adalah perjalanan moral.
Setiap hari kita sedang menulis sesuatu di langit yang tak terlihat.
Dan sering kali tulisan terbaik bukanlah karya besar, melainkan kebaikan kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus.
Seorang ibu yang tetap sabar kepada anaknya yang rewel.
Seorang guru yang tetap mengajar dengan sungguh-sungguh meskipun muridnya tidak selalu menghargainya.
Seorang pengemis yang masih menyisakan doa bagi orang yang memberinya uang receh.
Peristiwa-peristiwa seperti itu tampak sederhana. Tetapi seperti bintang di langit malam, justru kesederhanaan itu membuatnya bercahaya.
saya membayangkan kehidupan ini seperti taman. Manusia berjalan di dalamnya membawa benih-benih kecil: kejujuran, kesabaran, empati, dan kasih. Setiap kali kita menanam satu benih kebaikan, mungkin langit sedikit lebih cerah.
Dan saya teringat kembali pesan singkat pagi itu dari Much. Khoiri, sebuah kalimat yang tampaknya sederhana, tetapi diam-diam mengubah cara saya memandang banyak hal.
Mudah-mudahan ini membuat-Nya tersenyum.
Barangkali memang begitu cara terbaik menjalani hidup: melakukan kebaikan sekecil apa pun, lalu membiarkan langit yang menilainya.
Makassar, Ramadan 2026

Leave a Reply