GARIS KAPUR

Pentigraf
GARIS KAPUR
Oleh: Telly D.
Sejak tanda silang putih muncul di dinding rumahnya, Sulastri tak lagi bisa tidur nyenyak. Garis kapur itu vonis tanpa suara: rumahnya akan digusur untuk proyek jalan baru. Di dalam ruang sempit itu tersimpan foto suaminya yang telah meninggal, rapor anaknya yang pergi berlayar dan lemari tua warisan ibu. Setiap hari ia menyapu lantai lebih sering, seolah kebersihan bisa menunda kehancuran.
Ketika alat berat datang, warga berkumpul sambil membawa spanduk dan doa. Sulastri berdiri paling depan, memeluk map berisi surat kepemilikan tanah yang diwariskan ayahnya. Petugas membacanya sekilas, lalu mengembalikan tanpa ekspresi. “Data tidak sinkron,” katanya. Satu per satu rumah roboh, debu naik seperti kabut, menelan tangis dan teriakan.
Sore itu, di posko pengungsian, Sulastri menerima amplop ganti rugi. Jumlahnya bahkan tak cukup untuk menyewa kamar sebulan. Di balik amplop, tercetak logo proyek dan slogan besar: Pembangunan untuk Kesejahteraan Rakyat. Ia tertawa lirih, menyadari bahwa kesejahteraan itu dibangun dari puing-puing rumah orang kecil termasuk miliknya sendiri.
Makassar, 20 Januari 2026

Leave a Reply