Dari Lapar ke Lapang: Pelajaran yang Sering Dilupakan

Dari Lapar ke Lapang: Pelajaran yang Sering Dilupakan
Oleh:Telly D.*)
Ada satu ironi yang sering luput kita sadari: selama tiga puluh hari kita belajar menahan lapar, tetapi setelahnya kita justru lupa bagaimana rasanya lapar itu sendiri. Perut yang dulu dikosongkan untuk melatih empati, kini kembali penuh tanpa banyak jeda untuk mengingat. Padahal, Ramadan tidak pernah sekadar mengajarkan kita untuk tidak makan dan minum. Ia sedang menggeser cara kita melihat dunia dari yang serba cukup menjadi lebih peka terhadap yang kekurangan. Namun ketika Syawal datang dengan segala kelapangannya, pelajaran itu seringkali tertinggal di belakang, seperti catatan lama yang tidak pernah lagi dibuka.
Secara faktual, puasa telah lama dikaji bukan hanya sebagai praktik spiritual, tetapi juga sebagai latihan psikologis dan sosial. Dalam berbagai penelitian tentang self-regulation, menahan diri dari kebutuhan dasar seperti makan terbukti meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengendalikan impuls dan memperkuat empati. Ketika seseorang mengalami lapar secara sadar, ia tidak hanya melatih tubuhnya, tetapi juga membangun jembatan emosional dengan mereka yang hidup dalam kekurangan setiap hari. Inilah mengapa dalam banyak ajaran agama, puasa selalu diiringi dengan anjuran untuk bersedekah karena keduanya saling melengkapi: satu melatih rasa, yang lain menggerakkan aksi.
Namun realitas di lapangan sering berjalan berbeda. Data dari berbagai lembaga filantropi menunjukkan bahwa donasi masyarakat cenderung meningkat tajam selama Ramadan, bahkan bisa berlipat ganda dibanding bulan-bulan lainnya. Tetapi setelah itu, grafiknya menurun secara signifikan. Seolah-olah empati kita memiliki musimnya sendiri datang ketika suasana mendukung, lalu pergi ketika kehidupan kembali normal. Ini bukan sekadar soal angka, tetapi tentang bagaimana manusia seringkali membutuhkan momentum untuk menjadi baik, alih-alih menjadikannya sebagai bagian dari keseharian.
Padahal, lapar yang kita rasakan selama Ramadan bukanlah lapar yang sesungguhnya. Ia memiliki batas waktu yang jelas: dari fajar hingga senja. Ada kepastian bahwa maghrib akan datang, bahwa makanan akan tersedia, bahwa esok hari kita bisa mengulanginya lagi. Sementara di luar sana, ada orang-orang yang tidak pernah tahu kapan mereka akan makan berikutnya. Lapar bagi mereka bukan latihan, melainkan realitas. Tidak ada adzan yang menandai akhir penderitaan, tidak ada meja yang sudah menunggu. Dan justru karena itulah, Ramadan seharusnya menjadi jembatan kesadaran bukan sekadar pengalaman sementara.
Syawal, dalam konteks ini, adalah ruang evaluasi yang sering kita abaikan. Ia tidak lagi menghadirkan rasa lapar yang sama, tetapi justru menguji apakah kita masih mengingatnya. Apakah kita masih menyisakan ruang dalam hati untuk peduli, meskipun perut sudah kenyang? Apakah tangan kita masih ringan untuk memberi, meskipun tidak ada lagi dorongan kolektif yang mengingatkan setiap hari? Karena sesungguhnya, empati yang sejati tidak lahir dari kondisi kekurangan semata, tetapi dari kesadaran yang terus dijaga.
Menariknya, dalam ilmu perilaku, ada konsep yang disebut empathy gap kecenderungan manusia untuk kesulitan memahami kondisi emosional atau fisik yang tidak sedang ia alami. Ketika kita kenyang, kita cenderung meremehkan rasa lapar. Ketika kita nyaman, kita sulit membayangkan penderitaan orang lain. Ramadan, dengan segala ritualnya, sebenarnya berfungsi untuk menjembatani celah ini. Ia membuat kita “merasakan” agar kita “tidak lupa.” Tetapi tanpa upaya sadar, pengalaman itu mudah sekali menguap, tergantikan oleh rutinitas yang kembali seperti semula.
Di sinilah letak tantangan terbesar setelah Ramadhan: menjaga ingatan rasa. Bukan sekadar ingatan kognitif, tetapi ingatan yang hidup dalam sikap dan tindakan. Mengingat lapar bukan berarti terus merasa lapar, tetapi memastikan bahwa kenyang kita tidak membuat kita abai. Bahwa setiap suapan yang kita nikmati membawa serta kesadaran bahwa ada orang lain yang belum seberuntung itu. Dan dari kesadaran itulah, lahir keputusan-keputusan kecil yang bermakna: berbagi, membantu, atau sekadar tidak menyia-nyiakan apa yang kita miliki.
Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia secara besar-besaran setelah satu Ramadhan. Tetapi setidaknya, kita bisa menjaga agar diri kita tidak kembali menjadi orang yang sama seperti sebelumnya. Karena jika lapar hanya berhenti sebagai pengalaman fisik, maka ia akan hilang begitu saja. Tetapi jika ia berhasil menjadi pelajaran batin, maka ia akan menetap diam, tetapi mengarahkan.
Pada akhirnya, yang tersisa dari Ramadan bukanlah rasa lapar itu sendiri, melainkan apa yang kita lakukan setelah tidak lagi lapar. Apakah kita kembali menutup mata, atau justru membuka hati lebih lebar. Karena bisa jadi, ukuran keberhasilan puasa bukan terletak pada seberapa kuat kita menahan diri saat lapar, tetapi pada seberapa jauh kita tetap peduli ketika kita sudah kenyang.
Makassar, Ramadan 2026
*) Telly D. adalah nama pena dari Dr. Daswatia Astuti, M. Pd. Pegiat literasi, Pekerja sosial Kemanusiaan, Pemerhati Pendidikan, penasihat komunitas menulis RVL, penasihat IGMP matematika, pelukis Dan penulis 60 judul buku lebih. Buku terakhir Dinding Cermin dan Pintu (2026).

Leave a Reply