IDUL FITRI

Pentigraf
IDUL FITRI
Oleh: Telly D.
Pagi Idul Fitri, Bu Rina tetap menata meja seperti biasa; ketupat, opor, dan kue-kue kesukaan anaknya, meski ia tahu tahun ini kursi itu akan kosong. Seminggu lalu, anaknya sudah berjanji tidak bisa pulang. Pekerjaan, jarak, dan keadaan membuat semuanya tak mungkin. Ia mengangguk saat itu, tersenyum, seolah sudah siap. Namun pagi ini, matanya tetap sesekali melirik pintu, seperti menunggu sesuatu yang bahkan ia tahu tidak akan datang.
Suaminya duduk di ruang depan, diam seperti biasanya. Mereka berdua saling mengerti tanpa banyak bicara bahwa rindu kadang tidak butuh penjelasan. “Kita makan saja dulu,” katanya pelan. Mereka pun duduk berdua di meja yang terlalu besar untuk hanya dua orang. Tidak ada yang salah, tidak ada yang kurang secara nyata, tapi tetap saja ada ruang yang tak terisi.
Saat selesai makan, Bu Rina merapikan piring dengan hati yang lebih tenang. Ia mengambil ponselnya, membaca kembali pesan anaknya semalam: “Doakan aku ya, Bu. Tahun ini belum bisa pulang.” Kali ini ia tidak merasa sedih seperti sebelumnya. Ia tersenyum kecil. Di hari yang ia kira akan sepenuhnya sepi, ia justru memahami satu hal sederhana: bahwa mencintai seorang anak… juga berarti belajar ikhlas ketika ia tidak lagi selalu pulang.
Makassar. Syawal 2026

Leave a Reply