RETAK DISENGAJA

Pentigraf
RETAK DISENGAJA
Oleh: Telly D.
Brak… bunyi piring yang menyenggol cermin memecah riuh restoran mahal itu. Kusrin, pelayan yang sejak pagi menahan lelah di telapak kakinya, mematung melihat retakan menjalar di permukaan cermin unik yang kebanggaan tempat itu. Para pramusaji dan manajer terdiam, lebih takut pada harga cermin daripada serpihannya. Dalam pantulan yang mulai buram, Kusrin melihat wajahnya sendiri: menua, pucat, letih, dan penuh rasa bersalah.
Manajer bergegas memanggil pemilik restoran yang terkenal dingin dan tak pernah memaafkan kesalahan. Ia datang dengan langkah tegas, matanya menilai retakan itu seperti menghitung dosa. Kusrin ketakutan, ia ingin menjelaskan bahwa tubuhnya sudah terlalu lama berdiri, bahwa tangannya gemetar bukan karena ceroboh, melainkan karena kelelahan yang tak diberi jeda. Namun kata-kata itu tertahan, seperti debu di balik kaca.
Tiba-tiba saja sang pemilik mengambil gelas dari tangan manager, melemparkannya ke cermin, hingga pecah berderai, mengejutkan semua orang. Ia menatap serpihan kaca yang jatuh seperti hujan lalu berkata tenang, “Laporkan ke bagian keuangan, aku yang memecahkannya.”
Semua terdiam, dan Kusrin merasakan sesuatu yang hangat merembes di dadanya: rupanya kebaikan pun bisa memantul lebih jernih dari kaca, menyatukan yang retak dengan cahaya yang baru.
Makassar, 13 Januari 2026

Leave a Reply