Reuni

Reuni
Oleh: Telly D.*)
Waktu ternyata tidak berjalan lurus. Ia berputar, kadang bersembunyi, lalu tiba-tiba mempertemukan kita kembali di satu ruangan bernama kenangan. Hari ini, saya berdiri di hadapan wajah-wajah yang dulu saya kenal lewat bangku kayu, seragam kusam, dan buku tulis yang penuh coretan mimpi. Tahun 1988 terasa jauh, namun anehnya begitu dekat, seperti halaman buku yang lama terlipat dan kini terbuka kembali.
Dulu, saya berdiri di depan kelas sebagai guru, seseorang yang dipercaya membawa jawaban. Kalian duduk sebagai murid, mereka yang dianggap sedang menunggu masa depan. Tapi waktu punya cara licik membalikkan peran. Hari ini, kita sama-sama sedang belajar. Kalian belajar dari hidup yang sudah ditempuh; saya belajar dari wajah-wajah yang berhasil bertahan. Di titik ini, saya tak lagi yakin siapa guru dan siapa murid.
Saya masih ingat beberapa dari kalian bukan dari nilai tertinggi, melainkan dari hal-hal kecil: yang selalu datang paling pagi, yang menunduk ketika ditanya, yang tampak biasa saja tapi tak pernah menyerah. Bertahun-tahun kemudian, saya mengerti, hidup jarang dimenangkan oleh yang paling cemerlang, melainkan oleh yang paling tekun memelihara harapan. Kalian mengajarkan itu tanpa sadar, jauh sebelum saya berani mengakuinya.
Ada nasihat yang dulu saya sampaikan dengan suara mantap, seolah-olah saya sudah memahami hidup sepenuhnya. Kini, setelah puluhan tahun, saya baru mengerti maknanya. Ternyata banyak kata bijak hanya bisa dipahami setelah kita kehilangan, gagal, atau diam terlalu lama di persimpangan. Dari situ saya belajar satu hal penting: guru pun bertumbuh, dan pembelajaran sejati sering datang terlambat, tapi selalu tepat waktu.
Dulu kita mengukur keberhasilan dengan angka: peringkat, nilai ujian, ijazah. Hari ini, ukuran itu terasa rapuh. Saya melihat kesuksesan dalam cara kalian tetap jujur saat punya kesempatan berbuat curang, tetap lembut ketika hidup keras, dan tetap pulang meski dunia menawarkan terlalu banyak jalan. Kesuksesan kini bukan tentang menjadi siapa, melainkan tentang tetap menjadi manusia.
Jika hari ini ada rasa haru yang menggantung di udara, itu karena kita tahu: tidak semua dari kita sampai di titik ini dengan mudah. Ada yang datang membawa cerita luka, ada yang menyimpan kehilangan, ada pula yang diam-diam bangga karena masih bisa tersenyum. Dan justru di situlah keindahan reuni ini, bukan pada apa yang kita pamerkan, melainkan pada apa yang berhasil kita lewati.
Izinkan saya mengatakan sesuatu yang mungkin tidak biasa. Terima kasih. Bukan karena kalian hadir hari ini, tetapi karena kalian pernah hadir dalam hidup saya sebagai alasan untuk terus percaya pada makna mengajar. Tanpa murid, seorang guru hanyalah orang yang berbicara sendiri. Kalianlah yang memberi arah pada kata-kata saya, bahkan hingga hari ini.
Tahun 1988, saya mengajak kalian membaca dunia. Hari ini, dari wajah-wajah yang matang oleh waktu, saya belajar bagaimana dunia itu dijalani. Dan jika waktu kembali berputar, saya berharap kita tak hanya mengingat masa lalu, tetapi juga membawa pulang satu keyakinan sederhana: bahwa hidup, sekeras apa pun, selalu layak dijalani dengan hati yang utuh.
Makassar, 5 Januari 2026
_____________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

Leave a Reply