Ketika Kenangan Datang Menghadang

Ketika Kenangan Datang Menghadang
Oleh: Telly D.*)
Pesan itu datang lewat WhatsApp, sederhana, tanpa tanda seru berlebihan. Sebuah sapaan dari seseorang bernama Nugie, yang mengaku sebagai murid SMP Athirah angkatan 1988. Aku membaca layar ponsel dengan dahi sedikit berkerut. Angkatan itu sudah terlalu jauh untuk sekadar disebut angka. Ia adalah masa yang telah berumur, berdebu oleh waktu. Nugie menulis dengan bahasa yang sopan, rapi, seolah ia masih duduk di bangku kelas, menunggu izin sebelum bertanya. Ia meminta alamat rumah dan menyampaikan keinginan untuk datang bersilaturahmi. Di titik itu, aku belum sepenuhnya percaya. Usia mengajarkan kehati-hatian; tidak semua kenangan datang dengan niat yang jernih.
Percakapan di WhatsApp itu berlanjut. Perlahan, ia menyebut nama-nama lain. Nama-nama yang pernah kutulis di daftar hadir, yang dulu kupanggil satu per satu sebelum pelajaran matematika dimulai. Seketika ruang waktu terasa menyempit. Layar ponsel kecil itu seperti jendela yang terbuka ke masa lalu. Mereka bukan satu orang. Mereka adalah murid-murid yang dulu kuajar, anak-anak yang pernah bergelut dengan angka, garis, dan rumus, sambil menahan bosan atau takut salah. Kini, lewat pesan singkat dan emotikon seperlunya, mereka mengabarkan rencana kumpul kecil. Reuni sederhana bersama guru-guru yang pernah mendidik mereka. Dan aku diundang untuk hadir, hari Sabtu, 10 Januari 2026.
Ada kejutan yang tidak meledak, tapi meresap. Bangga datang tanpa suara, duduk diam di dada. Aku tidak pernah merasa menjadi guru yang istimewa. Aku hanya menjalankan tugas: mengajar, menegur, mengulang penjelasan, kadang meninggikan suara, kadang memilih diam. Matematika adalah dunia yang dingin bagi sebagian anak, namun aku berusaha membuatnya bisa disentuh. Rupanya, yang mereka ingat bukan semata angka-angka, melainkan suasana: kesabaran yang tersembunyi di balik ketegasan, dan keyakinan bahwa mereka mampu memahami jika tidak menyerah.
Haru menyusul, seperti gelombang kecil yang tak bisa ditahan. Haru karena waktu tidak selalu memisahkan; ia kadang menyimpan dengan rapi. Haru karena di tengah kehidupan yang sibuk dan bergerak cepat, ada murid-murid yang masih mengingat gurunya, bahkan mencarinya lewat WhatsApp, dengan kalimat yang tertata dan niat yang jujur. Aku menatap ponsel itu lama. Setiap pesan terasa seperti ketukan pelan di pintu kenangan, meminta izin untuk masuk kembali.
Aku membayangkan pertemuan itu. Wajah-wajah yang dulu muda kini tentu telah berubah. Rambut yang dulu hitam mungkin mulai beruban, tawa yang dulu lepas kini lebih tertahan. Namun aku yakin, di balik perubahan itu, ada anak-anak yang sama yang pernah duduk di bangku kelas, mencatat dengan tergesa, dan berharap bel segera berbunyi. Mereka kini dewasa, mungkin telah menjadi apa saja: pemimpin, pekerja, orang tua. Dan aku, yang dulu berdiri di depan kelas, akan duduk bersama mereka sebagai saksi perjalanan waktu.
Percakapan WhatsApp itu mengajarkanku satu hal yang sunyi tapi dalam: menjadi guru bukanlah pekerjaan yang selesai saat bel terakhir berbunyi. Ia adalah jejak panjang yang baru terasa maknanya ketika murid-muridmu memilih untuk kembali. Undangan itu bukan sekadar ajakan hadir di sebuah acara. Ia adalah pengakuan halus bahwa kehadiran kita, sekecil apa pun, pernah berarti. Dan di situlah kejutan itu bermuara pada rasa syukur yang tenang, bahwa hidup mengajar tidak pernah benar-benar berlalu.
Makassar, 5 januari 2026
______________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

Leave a Reply