TANGAN

Pentigraf
TANGAN
Oleh: Telly D.
Ia memanggil namaku dari balik arus yang mulai meninggi. Suaranya putus-putus, memohon seperti orang yang tahu waktunya tinggal sedikit. Tangannya terulur, gemetar, menunggu disambut. Di sekeliling, orang-orang berteriak, air bergerak cepat, dan dunia menyempit pada jarak sejengkal antara tanganku dan tangannya.
Aku mengenal wajah itu. Wajah yang dulu berdiri di ambang pintu rumahku, menyuruhku pergi bersama anak tanpa memberi waktu menjelaskan. “Aku tak sudi melihat wajahmu lagi“ katanya pada anaknya, lalu menutup pintu dengan bunyi yang masih tinggal di dadaku sampai hari ini. Aku pergi malam itu membawa pakaian seadanya dan sisa harga diri yang tak sempat kukemas rapi.
Air naik sampai dadanya. Ia memanggil lagi, kali ini tanpa nama, hanya suara. Tanganku tetap di tempatnya. Aku tidak melangkah, tidak juga berbalik. Ketika arus akhirnya menutup wajahnya, hujan masih turun seperti biasa. Tidak semua yang meminta diselamatkan, orang benar-benar ingin menyelamatkan, ada luka yang lebih dulu mengajari tangan untuk diam.
Makassar, 14 Desember 2025

December 18, 2025 at 12:43 pm
PakDSus
Ada sesak di dada. Kisah hero biasanya kekejaman dibalas kebaikan. Namun, kadang perlu pembenaran memperlakukannya dengan hal yang dianggap setimpal.
December 18, 2025 at 11:47 am
Bu kanjeng
Luka yang membeku
December 18, 2025 at 10:54 am
Much. Khoiri
Penti yang bagus. Halus.