NADI

Pentigraf
NADI
Oleh: Telly D.
Aku menekan dada lelaki tua itu dengan ritme yang kupelajari sejak tahun pertama menjadi perawat. Tanganku bergerak otomatis, menghitung, mendengar napas yang tersisa seperti daun kering tersangkut di tenggorokan. Lumpur masih melekat di rambut dan kerah bajunya. Di sekeliling, tenda medis dipenuhi erangan dan bau obat, tapi di hadapanku hanya ada satu tubuh yang harus ditahan agar tidak pergi.

Saat wajahnya dibersihkan, aku mengenali sorot matanya meski redup. Mata yang dulu menatapku dingin di ruang tamu rumahnya. Mata yang tak pernah mau mendengar penjelasanku, tak pernah mau menyebut namaku tanpa nada merendahkan. “Dia bukan untukmu,” katanya waktu itu. Dan hari ini, aku memanggil namanya sambil memohon agar ia bertahan.
Nadinya melemah, lalu hilang. Aku tetap menekan beberapa detik lebih lama, berharap waktu bisa ditawar. Ketika akhirnya aku berhenti, kesunyian jatuh seperti keputusan lama yang tak bisa diubah. Di pengungsian, aku belajar: tak semua orang yang kita coba selamatkan pernah menginginkan kita hadir, bahkan saat hidup mereka ada di tangan kita.
Makassar, 14 Desember 2025

Leave a Reply