TIM SAR

Pentigraf
TIM SAR
Oleh: Telly D.
Kami tiba sebelum matahari sepenuhnya naik, namun bau lumpur dan tangisan sudah memenuhi udara. Desa itu dari kejauhan tampak seperti sobekan dunia, rumah terbelah, jembatan hanyut, garis air di dinding menjadi saksi cepatnya arus menelan segalanya. Kami terbiasa menghadapi bencana, tetapi pagi itu langkah paling terlatih sekalipun terasa ragu. Tidak ada waktu untuk gentar; kami bergerak, menembus reruntuhan dan lumpur yang menelan jejak kehidupan.
Di antara puing, tanda-tanda kehidupan muncul begitu rapuh: ketukan lemah, teriakan serak, napas yang hampir tenggelam oleh gemuruh air. Setiap temuan adalah perlombaan dengan waktu. Kadang kami mengangkat tubuh yang masih hangat, menangis lega; kadang hanya keheningan yang kami temukan. Seorang anak memegang lengan saya sambil berbisik, “Rumah saya hilang semua, Kak.” Lumpur di wajahnya terlalu jujur untuk dibohongi, dan kata-kata yang ingin kami ucapkan terseret arus putus asa yang sama.
Menjelang malam, kami duduk kelelahan. Yang paling berat adalah kesadaran: bencana ini bukan sekadar amarah alam, tapi cermin dari keserakahan manusia. Kami berharap peringatan ini menumbuhkan kesadaran, namun di antara lampu sorot dan air keruh, muncul kepahitan yang lebih dalam, beberapa orang yang seharusnya belajar dari tragedi, justru sibuk merencanakan pembangunan baru yang lebih menjanjikan. Alam berbicara keras, tapi manusia memilih untuk tidak mendengar.
Makassar, 4 Desember 2025

Leave a Reply