SUARA YANG TENGGELAM

Pentigraf
SUARA YANG TENGGELAM
Oleh: Telly D.
Kami, warga yang tersisa di tepi lumpur ini, sudah terlalu lama menunggu suara sirene yang tak pernah datang. Bantuan bergerak lebih lambat dari banjir itu sendiri, sementara rumah-rumah kami hanyut dalam hitungan jam, keputusan mereka seperti tersesat di lorong rapat yang tak berujung. Anak-anak menggigil di posko, orang tua kelelahan di antrean, dan kami semua mulai bertanya-tanya: apakah hidup kami benar-benar pantas ditunda?
Hal yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan harta, tapi rasa diabaikan seolah kami tak lebih penting daripada headline lima menit. Kami tahu betul, kalau ini musim Pemilu, dunia pasti tiba-tiba penuh tenda oranye, biru, merah, dan hijau. Tiba-tiba semua pejabat turun ke lumpur dengan kamera mengikuti di belakangnya. Tiba-tiba kami bukan lagi korban, tapi “aset suara.” Betapa ironinya: ketika kami membutuhkan negara, ia berjalan. Ketika negara membutuhkan kami, ia berlari.
Di antara bau lumpur, perut lapar, dan malam yang terlalu panjang, kekecewaan berubah menjadi pelajaran yang pahit. Banjir ini merenggut banyak hal, tapi yang paling membuat dada kami sesak adalah menyadari bahwa perhatian bisa datang cepat bukan ketika kami runtuh, tapi ketika mereka butuh panggung. Kami tetap bertahan, bukan karena ditolong, tapi karena tak ada pilihan lain.
Makassar, 4 Desember 2025

Leave a Reply