SAPI PERAH

Pentigraf
SAPI PERAH
Oleh: Telly D.
“Lihat sapi-sapi itu,” kata Ayah ketika membawa anaknya berjalan di atas padang yang sunyi dan luas, di mana sapi-sapi tampak seperti titik-titik. Kemudian ia mulai bercerita bahwa alam selalu tahu bagaimana memelihara hidup tanpa tergesa atau meminta lebih dari yang diberi.
Saat mereka semakin dekat dengan kota, pabrik-pabrik tumbuh dari kejauhan seperti bukit-bukit besi yang bernafas, mengepulkan uap tipis yang naik perlahan ke langit. Ayah meneruskan ceritanya bahwa bangunan-bangunan itu adalah tempat manusia mengolah tenaga menjadi penghidupan yang mengalir ke banyak rumah.
Namun, ketika anak itu menghubungkan padang yang memberi manfaat bagi banyak makhluk dengan pabrik yang menghidupi banyak keluarga lalu bertanya mengapa pabrik itu disebut “sapi perah?” Ayah jadi salah tingkah, tak menemukan cara mudah untuk menjelaskan. Ia hanya membiarkan pertanyaan itu luruh menjadi renungan pahit, bagaimana sumber kehidupan yang seharusnya dinikmati bersama dapat direbut segelintir tangan yang tak pernah kenyang. Sebuah kenyataan getir yang bahkan untuk diucapkan pun membuat ayah merasa suaranya tercekat di tenggorokan.
Makassar, 27 November 2025

December 2, 2025 at 2:19 pm
Angela3021
https://shorturl.fm/gZFlX
November 29, 2025 at 12:15 pm
Rose2211
https://shorturl.fm/tlexL
November 28, 2025 at 6:02 pm
Clarence3500
https://shorturl.fm/0UphN