WUJUD NASIONALISME

Pentigraf
WUJUD NASIONALISME
Oleh: Telly D.
Setiap Rabu pagi, kelas PPKN Pak Usman terasa seperti arena pengadilan. Ia menatap murid-muridnya dengan serius dan bertanya, “Apa wujud nasionalismemu?” Udara di ruangan tebal, menekan dada, seolah setiap kata yang akan keluar dari mulut murid bisa memicu gempa kecil.
Ema mengangkat tangan, lembut tapi mantap, “Saya menerima perbedaan.” Rita berdiri tegap, Bela negara, dengan semangat membara di suaranya, sementara Andi menepuk dada bangga dengan bahasa Indonesia yang rapi dan benar. Tekanan kelas makin terasa, semua menahan napas, seperti berada di tengah jalan tol yang macet dan panas, menunggu ledakan yang tak bisa dihindari.
Giliran Wandi. Ia melangkah gemulai bak ratu kecantikan yang menantang dunia, lambaiannya dramatis. Sekali gerak tanpa terduga ia membuka dua kancing bajunya sehingga nampak kaos dalamnya berwarna merah putih berpita, bergambar Hello Kitty bertuliskan Love Forever. Kelas hening, semua mulut ternganga, lalu tawa meledak bagai kembang api. Namun Wandi tetap tenang menatap Pak Usman dan berkata, “Bukankah kemerdekaan yang kita perjuangkan itu juga hak untuk memilih jalan kita sendiri, Pak?” Seketika tawa mereda, semua baru sadar bahwa nasionalisme juga lahir dari keberanian menjadi diri sendiri.
Makassar, 14 November 2025

November 16, 2025 at 7:23 am
Bryan1618
https://shorturl.fm/xFqKp