Perayaan yang Dimulai Dari Akar

Perayaan yang Dimulai Dari Akar
Oleh: Telly D.
Rangkaian perayaan ulang tahun perkawinan saya yang ke-40 tidak dimulai di restoran, bukan pula di rumah saya, melainkan dimulai di rumah induk saya, di tempat di mana seluruh kisah hidup saya pertama kali bertunas. Seolah segala kebahagiaan yang akan terjadi hari itu harus kembali menyentuh akarnya dulu, menyapa sumber kasih yang telah memberi saya kekuatan berjalan hingga usia sekarang.
Pagi itu saya membawa sebuah tart berbalut cokelat, sederhana namun penuh maksud. Di atasnya tertulis pelan namun jelas: Selamat Ulang Tahun Perkawinan ke-40. Bukan sekadar tulisan, tetapi sebuah penanda perjalanan panjang yang ingin saya rayakan bersama satu-satunya orang yang telah menjadi batang penyangga hidup saya sejak kecil: ayah saya, yang kini berusia 95 tahun.
Saat saya memasuki rumah induk saya, aroma masa lalu menyambut: wangi kayu tua, kenangan dapur, suara lantai yang berderit lembut. Semua seperti menyampaikan selamat datang. Ayah saya duduk di kursi tuanya, tubuhnya mulai rapuh, tetapi matanya masih jernih, masih menyimpan ketegasan kasih yang saya kenal sejak kecil. Ketika saya menyodorkan kue itu, senyumnya muncul pelan, namun dalam. Senyum yang hanya bisa dimiliki seorang ayah yang merasa bahwa anaknya datang bukan hanya membawa kue, tetapi juga membawa seluruh cinta dan penghormatan.
Saya duduk di sampingnya. Suami saya dengan kruk yang menemaninya ikut duduk dengan hormat. Kami hanya bertiga, namun keheningan itu begitu berarti. Tidak ada kebutuhan untuk ramai. Tidak ada dekorasi apa pun. Yang ada hanyalah rasa syukur yang turun pelan-pelan, seperti cahaya pagi yang menyelinap masuk melalui jendela.

Ayah Berdoa untuk Keselamatan Kami. Foto: Dokumen Pribadi
Ayah saya mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa. Suaranya lembut, namun setiap kata terasa menancap dalam. Ia berdoa agar hidup saya selalu dipenuhi keberkahan, agar keluarga kecil saya dijaga Tuhan dalam kesehatan dan kelanggengan, agar perjalanan empat puluh tahun yang saya jalani tetap terpelihara oleh cinta yang tidak pernah pudar. Doa seorang ayah, di usia hampir seabad, memiliki kekuatan yang tak dapat dijelaskan oleh logika apa pun. Ada getaran lembut yang menyelinap masuk ke dada saya, membuat mata saya terasa hangat.
Ketika doa selesai, ayah saya mengambil pisau kecil dan memotong kue itu. Tangannya gemetar halus, tetapi tetap tegas seperti dulu ketika ia memotongkan makan untuk saya sewaktu kecil. Ia mengambil potongan pertama, lalu menyuapinya ke mulutnya sendiri, puluhan tahun setelah ia pertama kali menyuapi saya. Saya melihat wajahnya berubah lembut, dan saat itu saya merasa seakan waktu berputar kembali ke asal mula kehidupan saya: seorang ayah, anaknya, dan cinta yang tidak pernah berubah.
Saya sangat berbahagia. Di usia saya kini, masih bisa merayakan momen penting bersama ayah saya adalah anugerah yang tidak semua orang miliki. Kehadirannya menjadi tanda bahwa meski hidup membawa saya jauh, akar itu tetap ada, tetap kuat, tetap menjadi sumber tempat saya kembali.
Dan di situlah sesungguhnya lakon hari itu bermula: bukan dari perayaan besar, bukan dari kehadiran tamu, tapi dari perjumpaan sederhana seorang anak dengan ayahnya. Dari doa yang menurunkan ketenangan. Dari potongan kue yang mengingatkan bahwa hidup saya dengan segala bahagia dan dukanya berasal dari kasih seorang laki-laki tua yang kini duduk di hadapan saya.
Perayaan ulang tahun perkawinan saya yang ke-40 dimulai dari akar. Dari tangan yang dulu menuntun langkah pertama saya. Dari doa yang menjaga saya sebelum saya bisa menjaga diri sendiri. Dan dari momen itulah saya kemudian melanjutkan seluruh rangkaian acara hari itu dengan hati yang lebih penuh: karena saya telah menyapa asal-usul cinta terlebih dahulu.
Makassar, 14 November 2025

November 19, 2025 at 11:57 am
Anne1789
https://shorturl.fm/i8zNa