Berlayar dengan Perahu Phinisi

Berlayar dengan Perahu Phinisi
Oleh: Telly D.
“Setiap stimulus menulis sebaiknya dioptimalkan untuk menjadi tulisan,” pesan guru menulis saya, Dr. Much Khoiri, M.Si., saat saya mengabarkan bahwa saya sedang berada di atas perahu phinisi, di tengah laut biru diterpa matahari sore.
Kalimat itu tidak hanya saya baca, tetapi saya rasakan, bergema di kepala bak gema ombak yang tak berhenti memecah sisi perahu. Maka saya pun membuka laptop di anjungan kayu yang bergoyang, di antara angin yang membawa aroma garam laut, di bawah layar perahu phinisi yang berkibar melambai menantang arah.
Perahu phinisi yang saya tumpangi, alat pelayaran dengan kisah panjang dari kearifan lokal Bugis-Makassar, dari tangan-tangan “panrita lopi” yang setia menatah kayu, mengikat simpul, dan menegakkan layar dengan keyakinan bahwa laut adalah sahabat, bukan musuh.
Sejak berabad-abad silam, phinisi menjadi lambang keberanian dan keuletan pelaut Nusantara. Di setiap kayunya tersimpan filosofi: kerja keras, keseimbangan, dan hormat pada alam. Menikmati berlayar bersama membuat saya berpikir, betapa menulis pun tak ubahnya seperti itu dilahirkan dari kesabaran, dibangun dari ketekunan, dan digerakkan oleh keyakinan.
Saya teringat masa awal saya belajar menulis. Waktu itu saya menulis dengan semangat yang nyaris meluap, tetapi tanpa arah. Kalimat-kalimat saya panjang, penuh keinginan untuk menjelaskan segalanya, seolah takut kehilangan makna. Tanda baca sering salah tempat, alur berpikir tak selalu jelas. Tulisan-tulisan itu seperti perahu yang baru selesai dibangun namun belum mengenal arah angin. Saya berlayar tanpa kompas, terombang-ambing oleh ide yang terlalu banyak. Namun justru dari kekacauan itu saya mulai belajar: bahwa menulis tidak cukup hanya dengan semangat, ia juga butuh arah dan keseimbangan.

Penulis sejati tak mencari akhir, ia berlayar bersama kata. Foto: Dokumen Pribadi
Perlahan, saya mulai memahami bagaimana kalimat bekerja. Saya belajar menyingkat yang panjang, menata ulang paragraf agar tidak berjejal, menahan diri untuk tidak berkata terlalu banyak. Saya mulai mengenali irama bahasa bagaimana setiap kata punya napas, setiap jeda punya makna. Menulis ternyata bukan sekadar menumpahkan isi hati, tetapi mengatur arusnya agar mengalir jernih. Dalam proses itu, saya belajar mengendalikan ego kata, belajar bahwa kekuatan tulisan bukan pada banyaknya kalimat, tetapi pada kejujuran dan ketepatan makna.
Saya juga belajar bahwa menulis adalah perjalanan berpikir. Setiap kali merevisi, saya merasa seperti pelaut yang menyesuaikan haluan ketika angin berubah. Revisi tidak sekadar memperbaiki kesalahan, melainkan menemukan arah baru. Kadang satu kata perlu dihapus, satu kalimat diganti, atau satu paragraf dibuang seluruhnya. Tapi justru di situlah saya menemukan kepuasan yang aneh: keindahan lahir dari pengorbanan kecil yang terus-menerus.
Ketika mulai mengenal majas dan simbol, dunia menulis saya menjadi lebih luas. Saya menemukan bahwa kata bisa melampaui dirinya sendiri. Laut bukan lagi hanya sekadar laut; ia bisa menjadi lambang kehidupan yang luas, dalam, dan penuh rahasia. Ombak bukan hanya riak air, tetapi ujian yang menguji kesabaran. Layar menjadi tekad, tali menjadi kesetiaan, dan perahu ini tempat saya menulis menjadi simbol perjalanan batin yang terus bergerak. Menulis tidak hanya bicara tentang bahasa, tetapi tentang cara kita memaknai hidup.
Namun perjalanan menulis, sebagaimana pelayaran, tidak selalu tenang. Ada hari-hari ketika pena terasa berat, ketika ide tak mau muncul, dan ketika saya mulai bertanya: untuk apa menulis di usia yang tak lagi muda? Di saat seperti itu, laut menjadi guru. Ia mengajarkan bahwa setiap badai punya ujung, setiap ombak akan reda. Saya belajar menunggu, menenangkan diri, dan kembali menulis ketika angin inspirasi datang lagi. Menulis di masa senja seperti ini justru terasa lebih jujur: saya tidak lagi mengejar pengakuan, hanya ingin meninggalkan jejak kata yang tenang dan tulus.
Sekarang, di atas anjungan perahu phinisi yang melaju perlahan, saya menghitung jarak antara kata dan waktu. Saya menoleh ke belakang, melihat jejak tulisan yang sudah saya buat: sebagian terbit, sebagian tersimpan, sebagian mungkin terlupakan. Namun semuanya adalah bagian dari pelayaran panjang yang membentuk saya menjadi penulis yang lebih sabar.
Phinisi ini, dengan layar putih yang mengembang anggun, mengingatkan saya pada perjalanan menulis yang tak pernah selesai. Setiap kali berlayar, laut selalu berbeda. Begitu pula menulis: setiap tema membawa tantangan baru, setiap tulisan mengajarkan hal yang berbeda. Saya belajar bahwa keberanian sejati bukan berarti tidak takut badai, melainkan tetap berlayar meski langit sedang tak bersahabat.
Menulis di masa seperti ini, di antara senja dan laut yang luas, membuat saya merasa dekat dengan diri sendiri. Kata-kata menjadi teman seperjalanan, kalimat menjadi pelampung yang menolong saya tetap terapung di tengah arus hidup. Setiap tulisan yang selesai adalah pelabuhan kecil tempat saya beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pelayaran baru.
Dan saya tahu, sebagaimana perahu phinisi yang terus berlayar mengikuti arah angin, saya pun akan terus menulis, mengikuti arus pikiran dan hati yang tak pernah berhenti bergerak. Menulis bukan lagi sekadar keterampilan; ia telah menjadi cara saya berlayar menuju pemahaman hidup.
Selama laut masih berombak dan senja masih turun perlahan di cakrawala, layar laptop ini akan tetap terbentang, keyboard tetap bergerak, dan perjalanan menulis saya yang panjang, berliku, dan penuh badai akan terus berlanjut. Sebab menulis, sebagaimana berlayar, adalah tentang kesetiaan: kepada arah, kepada makna, dan kepada diri sendiri yang tak berhenti mencari rumah dalam setiap kata.
Raja Ampat, 17 Oktober 2025

October 31, 2025 at 1:50 pm
Andrea73
https://shorturl.fm/iRQ6O
October 19, 2025 at 3:15 pm
Wilson3627
https://shorturl.fm/7Bkvo