Ayahku, Guru Sejati di Usia 95 Tahun

Ayahku, Guru Sejati di Usia 95 Tahun
Oleh: Telly D.
Sudah beberapa hari ini aku menginap di rumah induk, rumah tua yang menjadi pusat kenangan dan sumber cahaya bagi seluruh keluarga. Di sanalah ayah tinggal bersama kakak tertuaku, menantu, dan cucu-cucunya. Kakak sulungku seorang dokter, anak tertuanyanya pun seorang dokter, dan anak yang bungsu seorang ahli gizi. Maka tak heran jika setiap hal di rumah itu begitu teratur: jadwal makan ayah, pola tidur, hingga porsi asupan gizinya diukur dengan cermat. Namun, di balik semua keteraturan itu, ada satu hal yang membuatku selalu kagum: semangat ayah yang tak pernah menua.
Di usia 95 tahun, ayah masih melakukan segalanya sendiri. Ia mandi tanpa dibantu, berjalan dari kamar ke ruang makan hanya dengan tongkat, dan yang paling membahagiakan, masih menjadi imam salat bagi kami. Ia berkata, “Tubuh ini harus terus bergerak. Kalau diam, yang diam bukan hanya badan, tapi juga semangat.” Kalimat itu seperti doa yang menjelma jadi prinsip hidup. Aku melihat sendiri bagaimana setiap geraknya penuh kesadaran, seolah setiap langkah adalah latihan bersyukur karena masih diberi kekuatan.
Kakak dan keluarganya sedang ke Jakarta, jadi aku diberi tanggung jawab menemani ayah selama beberapa hari. Sebenarnya aku tak banyak melakukan apa-apa; semua sudah tertata rapi oleh kakakku. Ada pelayan yang tinggal bersama keluarganya di rumah induk. Mereka mengurus kebutuhan sehari-hari ayah dengan penuh hormat. Namun, dari semua rutinitas itu, ada satu hal yang membuatku tersentuh: ayah masih mengajar. Bukan di sekolah atau majelis taklim, tetapi di rumah, kepada tiga anak dari keluarga pelayan kami.
Ketiga anak itu memiliki kondisi khusus; kemampuan belajarnya jauh di bawah rata-rata. Setiap pagi, ayah duduk bersama mereka di meja khusunya, membuka juz-juz Al-Qur’an dan buku pelajaran dasar. Pelajarannya sederhana: mengenal huruf, membaca ayat, menulis kata-kata pendek. Namun, kemajuannya amat lambat. Apa yang diajarkan hari ini sering hilang keesokan harinya. Pelajaran yang sama diulang-ulang hingga berminggu-minggu. Kadang aku sendiri ikut gemas melihatnya. Tapi ayah, dengan kesabaran yang hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar mencintai ilmu, terus melanjutkan tanpa mengeluh.

Ayah Memperhatikan Setiap Anak yang Butuh Bantuan. Foto: Dokumen Pribadi
Suatu malam, setelah anak-anak itu pulang, aku memberanikan diri bertanya, “Ayah, apakah ayah tidak lelah? Mereka sepertinya tidak banyak berkembang.”
Ayah tersenyum pelan. “Nak,” katanya lembut, “aku tidak mengajar karena ingin mereka cepat pandai. Aku mengajar karena aku harus tetap menjadi guru. Allah memberiku kemampuan ini seumur hidup, dan tugasku adalah menggunakannya selama aku masih bisa bernapas. Soal mereka paham atau tidak, itu urusan Allah. Aku hanya menjaga agar waktuku tetap bermanfaat. Bukankah Rasulullah bersabda: ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya’ (HR. Ahmad)?”
Aku terdiam mendengar jawabannya. Ada cahaya yang lain dari wajah tuanya malam itu bukan cahaya fisik, tapi cahaya keyakinan. Di usia 95 tahun, ayah bukan lagi guru dalam arti formal. Ia telah melampaui batas profesi; ia menjelma menjadi pendidik kehidupan. Ia tidak menunggu murid yang sempurna, tapi justru memilih mereka yang paling membutuhkan sentuhan kasih dan kesabaran.
Dalam tradisi Islam, pendidikan tidak sekadar transfer ilmu, tapi juga penanaman nilai dan keteladanan. Al-Qur’an mengingatkan, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah…” (QS. An-Nisa 4: 9). Ayah tampaknya memahami ayat ini bukan hanya untuk keturunannya sendiri, tetapi juga untuk setiap anak yang lemah dalam pengertian apa pun lemah secara ekonomi, mental, atau intelektual. Ia berusaha menguatkan mereka dengan kasih dan konsistensi.
Setiap hari, ayah mengulang pelajaran dengan suara yang tenang dan sabar. Ketika seorang anak salah mengucap huruf hijaiyah, ayah tidak marah. Ia hanya tersenyum, lalu berkata, “Kita ulang lagi, ya, Nak. Mungkin hatimu tadi belum siap menerima huruf ini.” Kalimat itu seperti air yang menyejukkan. Tak ada tekanan, tak ada paksaan. Hanya cinta yang terus mengalir.
Aku belajar banyak dari kesederhanaan itu. Dalam dunia yang serba cepat, di mana kesabaran sering dikalahkan oleh hasil instan, ayah mengajarkan arti keistiqamahan. Ia menunjukkan bahwa mengajar bukan soal hasil, tapi tentang menjaga makna hidup. Selama seseorang masih mau berbagi ilmu, maka ia sejatinya masih hidup sepenuhnya.
Kini setiap kali aku melihat ayah memimpin salat, aku sadar: gerakan rukuk dan sujudnya bukan hanya ibadah, tetapi juga bentuk disiplin tubuh dan jiwa. Puasa Senin-Kamis yang masih ia jalankan bukan sekadar tradisi, melainkan latihan kendali diri. Dan saat ia mengajar anak-anak itu, sesungguhnya ia sedang menulis pelajaran tentang cinta dan keteguhan yang tak akan lekang oleh waktu.
Ayahku, guru sejati ia tidak lagi berdiri di depan kelas, tapi setiap langkah dan napasnya adalah pelajaran. Ia mengajarkanku bahwa menjadi manusia berarti terus memberi makna, meski usia menua dan tenaga berkurang. Seperti yang selalu ia katakan sebelum tidur, “Selama aku masih bisa berpikir dan menyebut nama Allah, aku masih guru bagi diriku sendiri.”
Dan malam itu, dalam keheningan rumah induk yang damai, aku menatap wajahnya yang teduh, dan dalam hati berbisik: Terima kasih, Ayah. Engkau bukan hanya guru bagi kami, tapi guru bagi kehidupan.
Makassar, 4 Oktober 2025

October 21, 2025 at 12:48 pm
Hajrah
Masya Allah
October 17, 2025 at 4:35 am
Eliza907
https://shorturl.fm/K3G4k
October 12, 2025 at 2:09 am
Florentina Winarti
Benar benar guru sejati, kesabarannya luar biasa
October 9, 2025 at 7:53 am
Budiyanti
Subhanallah. Ayah yang selalu menjadi guru bagi kehidupan. Semoga Beliau selalu diberikan kesehatan. Aamiin
October 7, 2025 at 10:29 am
N. Mimin Rukmini
Subhanallah! Barokallah Ayahanda! Barokallah Bunda!
October 7, 2025 at 12:59 am
PakDSus
Ayahanda yang perlu diteladani oleh mereka yang mengambil peran sebagai guru.
October 7, 2025 at 12:52 am
Ngainun Naim
Subhanallah. Teladan hidup dan kehidupan.